Tiba-tiba saja seluruh dunia dibikin sibuk menyambut tahun 1984. Kemampuan profetik seorang Inggeris bernama Eric Arthur Blair, atau lebih terkenal sebagai George Orwell, penulis novel 1984, seolah-olah diuji kebenarannya. Bersama itu pula banyak yang berlaku tidak adil terhadap George Orwell, dan juga terhadap kemanusiaan. Kebenaran ramalan Orwellian dinantikan atau malah diharapkan, sementara yang lebih penting adalah kesalahan ramalannya. Orwell tidak benar seluruhnya. Tetapi kesalahan Orwell terbesar terletak dalam kebenarannya dan kejeliannya menganalisa dinamika kekuasaan dan “ajarannya” tentang taktik mengendalikan kekuasaan. Tetapi yang menarik perhatian kita di sini adalah bersatunya Orwell dengan ramalan, hal yang sejalan dengan semakin diusahakan bersatunya ilmu-ilmu sosial dengan kemampuannya meramal.
Tetapi apa itu sebenarnya meramal? Apa itu masa depan bagi suatu ramalan? Dalam arti yang lebih luas meramal tidak terlepas dari mendengar, melihat dan berdasarkan itu memperkirakan apa yang akan terjadi. Dan Auguste Comte menjadi ahli ilmu sosial pertama yang merumuskan bahwa itulah seharusnya menjadi kemampuan ilmu sosial. Karena itu bilamana seorang ahli ilmu sosial melihat, maka dia bukan sekedar melihat, tetapi melihat untuk bisa melihat dahulu, voir pour prevoir, kata Comte. Tidak berhenti di situ saja. Comte menangkap sesuatu yang lebih khas dalam masyarakat manusia yaitu peranan manusia yang lebih aktif yaitu kemampuan mengantisipasikan perilaku untuk suatu masa yang akan datang. Yaitu kemampuannya untuk merombak kalau keadaan sekarang memang buruk, mengejar kalau ketinggalan, menahan laju kalau terlalu cepat. Comte menyebutnya sebagai prevoir pour prevenir. Di titik inilah sebenarnya ramal meramal menjadi sesuatu yang menarik dan karena itu sudah berkembang menjadi permainan mengasyikkan baik dalam diri pribadi maupun dalam lembaga-lembaga studi masa depan, karena yang menjadi taruhan adalah ketepatan ilmiah dalam pertarungan dengan determinisme dan kebebasan manusia.
Di sini sebenarnya masuk suatu unsur menentukan dalam meramal. Manakah yang lebih penting, kebenaran ramalan atau kekuatan antisipasi? Bilamana seluruh kecenderungan di dalam ramalan diusahakan untuk dijalankan maka ramalan itu akan terpenuhi. Ramalan hampir sama dengan perintah. Dengan ini kita katakan bahwa ramalan mengandung asas self-fulfilling, yaitu bahwa yang tadinya tidak ada, tidak mungkin ada, atau malah tidak terbayangkan ada, tetapi karena sudah diramalkan maka ada usaha besar-besaran untuk memenuhi apa yang sudah diramalkan. Di pihak lain ramalan bisa berarti larangan, yang pada prinsipnya juga tidak berbeda dari perintah, dengan konsekuensi terbalik. Karena sudah diramalkan maka ada usaha besar-besaran untuk menghindari apa yang diramalkan, dan ramalan akan terbukti palsu. Dengan demikian muncul satu asas lainnya yaitu asas self-defeating dalam setiap ramalan. Ramalan tidak terpenuhi justeru karena sudah diramalkan.
Di sini pula bedanya meramal gerhana matahari dan meramal di bidang sosial ekonomi. Semakin besar pengetahuan kita tentang masyarakat manusia, semakin besar pula usaha kita untuk merombak atau mempertahankan situasi dan setiap kali usaha itu membuat ramalan menjadi tidak berarti, karena setiap ramalan bisa dibenarkan dan bisa dipalsukan. Lantas timbul pertanyaan, di manakah letak nilai ramalan? Nilainya mungkin ada di sana, yaitu meningkatkan daya-rombak yang tertanam dalam setiap ramalan, karena di sanalah kebebasan yaitu kemampuan untuk merombak kenyataan masa kini dan mengolah kemungkinan demi kenyataan di masa depan dan di sanalah pula harkat kemanusiaan.