Secara kualitatif dan kuantitatif kelas menengah pada masa Orde Baru diduduki oleh kaum pedagang dan pengusaha nasional swasta asli. Hal ini dapat dilihat pada perkembangan jumlah anggota KADIN, HIPMI dan asosiasi-asosiasi lain. Menurut Yahya A. Muhaimin, pertumbuhan dan perkembangan mereka sebagai kelas menengah sangat bergantung pada pemegang kekuasaan politik, sehingga posisi mereka lebih merupakan “partner” ketimbang sebagai “pengimbang” atau “pengontrol” terhadap birokrasi dan pemerintah. Hal ini merupakan refleksi dari sistem patrimonialisme dan paternalisme masyarakat.