Prisma

Kaabah dan Garuda: Dilema Islam di Indonesia?

Keberhasilan Islam sebagai kekuatan penghimpun bagi gerakan penentang, diimbangi oleh kegagalannya menjadi lambang nasional dalam politik Indonesia. SI yang berdiri tahun 1912 gagal mempertahankan kedudukan pelopornya dalam gerakan nasional menyusul lahirnya beberapa organisasi sekuler. Menurut Dewi Fortuna Anwar, masalah ini ditimbulkan oleh ketimpangan antara kaum muslimin “nominal” dan kaum muslimin “saleh”, sementara di barisan orang saleh pun terdapat kelompok reformis dan tradisionalis. Sampai masa Orde Baru, belum nampak akhir ketegangan antara kekuatan di bawah lambang “Kaabah” dan pelindung “Garuda”.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan