Prisma

Rangsangan atau Intervensi?

Sebelum tahun 1929, teriak Samuelson, dalam pikiran para ahli ekonomi, yang ada hanyalah Teori Kuantitas dalam Makro Ekonomi. Itu ditekankan oleh penyandang Hadiah Nobel itu untuk mengimbangi gegap gempitanya aliran moneteris yang ditokohi oleh Milton Friedman, yang pada menjelang tahun tujuhpuluhan, tiba-tiba bertumbuhkan dengan apa yang disebut aliran fiskal. Ia juga bermaksud untuk mengatakan bahwa tak ada yang baru dalam teori moneteris itu. Yang disoalkan adalah, sampai seberapa jauh peranan uang, yaitu dalam aspek kuantitasnya, dalam mempengaruhi atau menentukan variasi tingkat output, kesempatan kerja dan harga.

Friedman, lebih-lebih beberapa pengikutnya, memang sangat provokatif. “Keadaan anggaran negara”, ucapnya, “tak punya pengaruh nyata terhadap perkembangan pendapatan nominal, inflasi dan deflasi, atau terhadap fluktuasi siklis”. Ia menekankan bahwa hanya uanglah yang pegang peranan, bukannya kebijaksanaan fiskal, kebijaksanaan anggaran atau tingkat pajak, yang mempengaruhi permintaan aggregat terhadap uang. Karena itu, kata Karl Brunner, yang pada tahun 1968 memberi nama “moneterisme” pada mazhab ini, hanya gejala mengenai stok uanglah yang dapat dijadikan pegangan untuk menilai pengaruh moneter terhadap output, kesempatan kerja dan harga. Sebab itu pula, peranan penguasa moneter, sebagai pengendali stok uang, sangat menentukan. Tingkahlaku mereka merupakan cermin turun naiknya perkembangan bisnis.

Sudah tentu pandangan aliran moneteris itu dianggap terlalu ekstrim kanan. Uang memang bisa menjadi persoalan. Tapi tidak hanya itu. Sungguhpun demikian diakui juga, bahwa semenjak populernya sistem Keynesian yang memusatkan perhatiannya pada aspek fiskal, persoalan uang, khususnya tentang pengaruh jumlah peredarannya dalam masyarakat, sering banyak dilupakan. Gebrakan kaum moneteris yang secara blak-blakan menuduh penguasa moneter sebagai hanya asyik mengotak-atik tingkat bunga dan melupakan pengendalian pertumbuhan uang, dan akibat kekeliruannya yang fatal berdasarkan bukti-bukti empiris, cukup menyentakkan.

Sebenarnya, perbedaan paham antara aliran moneteris dengan aliran fiskal atau struktural, berakar lebih dalam. Yang terakhir itu memiliki anggapan dasar, bahwa peranan pemerintah adalah penting. Intervensinya sangat diperlukan, umpamanya untuk mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat yang normal. Aliran moneteris menghendaki sebaliknya. Karena itu mereka berusaha meyakinkan kalangan pemerintah, bahwa justeru hanya dengan pengendalian aspek kuantitas uang, pemerintah bisa lebih efektif, tidak saja dalam pengendalian inflasi, tetapi juga dalam merangsang atau membatasi produksi, bahkan juga untuk mengurangi tingkat pengangguran. Tidak saja rangsangan moneter penting, tapi juga pengendalian kuantitas uang itu ditekankan sebagai instrumen kuncinya.

Sungguhpun demikian, sebagaimana aliran bensin, aliran uang juga beredar dalam struktur ekonomi tertentu. Lembaga-lembaga keuangan, badan-badan pemerintah dan berbagai organisasi ekonomi, termasuk yang sengaja diciptakan oleh pemerintah, merupakan struktur organisasi yang ikut membentuk struktur ekonomi. Tingkat kepekaannya terhadap rangsangan-rangsangan moneter juga berbeda. Demikian pula kemampuannya untuk mengelola sumber-sumber keuangan untuk kegiatan produksi. Itu semua mempengaruhi pola distribusi dari aliran yang tentu saja ikut mempengaruhi variasi dari aspek-aspek pertumbuhan. Di sini, kerangka analisa struktural sangat dibutuhkan untuk menentukan pola kebijaksanaan pengendalian uang.

Perbedaan pandangan antara kedua aliran itu hingga kini pun tetap berlangsung, karena perbedaan dasar anggapan tentang bagaimana mengelola perkembangan ekonomi. Tapi betapapun, gebrakan aliran moneteris akan selalu mengusik pemikiran. Terutama bagi mereka yang tertarik pada gagasan untuk kembali menilai, sampai seberapa jauh pemerintah perlu melakukan intervensi, dengan kecenderungan untuk membatasi atau mengurangi, justeru untuk meningkatkan efektivitasnya dalam mempengaruhi atau merangsang perkembangan ekonomi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan