Pada permulaan abad ini tersebut kisah bahwa para politikus dan ilmuwan Belanda dihadapkan dengan situasi ekonomi yang mengherankan di Hindia Belanda. Ketika terjadi boom tanaman ekspor yang nilainya meningkat dari 153 juta gulden pada 1898 menjadi 1.455 juta gulden pada 1925, kesejahteraan kaum bumiputera justeru merosot. Menurut teori ekonomi klasik perkembangan ini seharusnya tidak hanya menguntungkan tuan besar pemilik kebun tetapi juga massa kaum tani pada umumnya. Bukankah Adam Smith ada mengatakan bahwa dengan jalan mengejar kepentingan sendiri “tangan gaib” akan menuntun mereka untuk memajukan masyarakat secara lebih efektif?
Karena politik liberalisasi ekonomi ternyata gagal, kaum ekonom Belanda kemudian mempersoalkan sejauhmana teori ekonomi klasik cocok untuk diterapkan di daerah koloninya. Julius H. Boeke, ahli ekonomi Belanda yang pernah tinggal lama di Indonesia mencoba memberikan jawaban dengan konsep yang disebut “struktur ekonomi dualistis”. Kata Boeke, hukum ekonomi dalam masyarakat kapitalis Barat tidak dapat diterapkan ke suatu masyarakat di mana kapitalisme hidup berdampingan — akan tetapi dipisahkan oleh jurang sosial dan ekonomi yang tak terjembatani — dengan ekonomi kaum tani yang sebagian besar masih dikuasai hubungan-hubungan pra-kapitalis.
Boeke tak melihat jalan yang mudah dan cepat untuk menghilangkan dualisme ekonomi itu. Sebagaimana dikutip Bruce Glassburner, proses transformasi memerlukan periode beberapa generasi, sesuai dengan tahap evolusi sejarah. Sejarah harus dibiarkan melakukan pekerjaan sendiri, dan untuk itu dibutuhkan kesabaran, bagaikan kesabaran malaikat.
Kendati pun pesimisme Boeke banyak ditentang ahli-ahli ekonomi, konsep dualisme ekonomi dan sosial Boeke itu tampaknya dapat diterima para ekonom sebagai tipologi umum untuk menggambarkan ciri-ciri perekonomian negara-negara yang ekonominya terbelakang atau sedang berkembang, yaitu adanya sekurang-kurangnya dua sektor ekonomi: sektor moderen yang kecil dan kapitalis, serta sektor tradisional yang menguasai kehidupan ekonomi orang banyak. Kedua sektor ekonomi ini diharapkan “berjalan bersamaan” dalam satu kurun waktu dan dalam satu unit ekonomi negara/daerah. Soalnya, yang jadi perdebatan ialah apakah dua sektor ekonomi itu “hidup berdampingan secara damai” ataukah “saling menggerogoti” dimana yang kuatlah akhirnya yang menang. Perdebatan ini tampaknya masih tetap relevan sampai saat ini.
Bagi Indonesia Boeke telah memberikan pemahaman sejarah. Bahwa tugas elite nasional setelah kemerdekaan adalah mengubah struktur ekonomi kolonial yang dualistis menjadi kesatuan ekonomi nasional. Apa pun politik pembangunan yang dijalankan ia tidak hanya berorientasi kepada — tetapi juga harus menguntungkan — rakyat yang hidup di sektor tradisional yang besar, yang tidak efisien, yang tidak produktif, yang melarat, tetapi menampung sebagian besar rakyat, seraya mengubahnya dalam suatu proses transformasi jangka panjang menuju ke arah kesatuan ekonomi Indonesia. Suatu kebijaksanaan pembangunan yang bersifat bertaruh pada banyak.
Dua dasawarsa pembangunan kita memang telah menunjukkan pertumbuhan yang sangat berarti dilihat dari sudut kenaikan GNP dan pendapatan perkapita. Tetapi dalam bentuknya yang lain masih terdapat berbagai “dualisme”, misalnya dualisme sektor formal dan sektor informal, dualisme kota dan desa. Seorang ahli ekonomi bahkan berpendapat, dilihat dari sudut perombakan struktur perekonomian yang terjadi adalah history of no change, sejarah tiadanya perubahan.
Pembangunan berwawasan sejarah agaknya tidak hanya perlu belajar dari masa lampau, tetapi lebih penting lagi adalah visi tentang masyarakat masa depan. Seperti dikatakan T.S. Eliott, masa depan terkandung dalam masa lalu.
Bagi kaum ekonom barangkali di situ pula letak persoalannya. Ilmu ekonomi memang telah berkembang pesat lengkap dengan model-model matematis dan statistik serta peralatan analisa yang canggih. Tetapi ia tetap terbatas untuk menggambarkan, menganalisa, ataupun memproyeksikan kecenderungan tingkah laku ekonomi dalam perspektif waktu jangka pendek. Ilmu ekonomi bekerja dengan asumsi-asumsi ceteris paribus. Variabel-variabel yang justeru mempengaruhi kecenderungan jangka panjang termasuk faktor-faktor non ekonomi diasumsikan konstan karena itu dianggap tidak mempengaruhi analisa ekonomi. Keynes sendiri, guru besar kaum ekonom itu, memang kurang tertarik untuk melihat masa depan yang jauh. Ia pernah berkata, dalam panjang kita toh sudah mati.