“ANDA boleh ambil alih perusahaanku, hancurkan pabrik-pabrikku, tapi kembalikan orang-orangku, maka akan kubangun kembali bisnisku.” Inilah tantangan Henry Ford, sang raja mobil Amerika Serikat, yang punya keyakinan kuat, bahwa perusahaan dibangun kembangkan lebih dengan modal manusia, bukan dengan uang (capital). Dia percaya diri dan yakin akan kemampuan anak buahnya. Ucapan itu bukanlah kosong melompong. Ia punya bukti. Ford adalah kampiun permobilan Amerika Serikat, sampai sekarang.
Siapakah “orang-orang” yang dimaksudkan kalaulah bukan manusia yang memiliki sumber daya berpikir, berbicara, bertindak dan berkarya menurut bidangnya masing-masing. Tapi orang pun punya harga diri, dan bisa berseru “saya ini manusia, bukan binatang”, bila perlakuan terhadapnya melebihi batas kewajaran.
Dalam bidang usaha, sebutan bagi orang yang bekerja adalah “buruh” yang diberi upah oleh pemilik perusahaan yang disebut “majikan”. Tapi karena berkonotasi eksploitatif dan barangkali komunistis, sebutan “buruh” sudah dialihnamakan menjadi pekerja. Organisasi perburuhan di Indonesia pun risi dengan sebutan itu dan mengubah nama Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Hubungan Perburuhan Pancasila (HPP) pun diganti dengan Hubungan Industrial Pancasila (HIP), walaupun dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1983-1988 yang harus menjadi pegangan dan pedoman masyarakat Indonesia, jelas-jelas tercantum istilah “hubungan perburuhan” dan “serikat buruh”, bukan “hubungan industrial” dan “serikat pekerja.”
Barangkali lebih aman dan terpandang sebutan “karyawan” atau “pegawai negeri.” Namanya tak pernah digusur keputusan, apalagi terkubur karena ketakutan. Organisasinya pun selamat dengan nama Korps Karyawan (Kokar) atau pun Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia (Korpri).
Lantas orang-orang pun akan merasa bangga menyebut dirinya, “Aku, karyawan kantor konsultan,” atau pun “Saya, pegawai Departemen Keuangan”. Tapi orang yang sedang menggali tanah di tepi jalan sembari menanti upah harian dari pegawai perusahaan kontraktor jalan, cuma bisa berbisik “Saya, buruh kasar”.
Dalam bukunya, In Search of Excellence, Thomas J. Peters dan Robert H. Waterman, Jr. menguraikan keberhasilan beberapa perusahaan Amerika Serikat. Penghargaan kepada setiap individu, orientasi kepada manusia, dan produktivitas melalui manusia merupakan kunci sukses mereka. Perusahaan Dana, Amerika Serikat, melalui pimpinannya Rene McPherson menyatakan, “Manusia, warga kita sendiri, inilah nilai dan milik perusahaan yang paling cemerlang. Biarkan orang-orang warga kita sendiri menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.” Penghargaan kepada “orang-orang warga perusahaan sendiri” merupakan ciri perusahaan Dana Corporation, hingga produktivitas mereka meningkat.
Filsafat perusahaan Hewlett-Packard (HP) adalah orientasi pada manusia. Pimpinannya yakin, bahwa kebijaksana-an dan tindakan yang diputuskan haruslah didasarkan pada keyakinan bahwa manusia — laki-laki ataupun wanita — ingin melakukan pekerjaan yang baik dan kreatif. Kalau mereka diberi lingkungan yang sesuai, mereka pun akan melakukannya. Tradisi HP adalah perlakuan terhadap setiap pribadi dengan penuh penghargaan dan pertimbangan. Harga diri dan nilai seorang pribadi itulah faktor penting dalam perusahaan. Filsafat kemanusiaan perusahaan HP ini berbunyi: “Hasil yang dicapai suatu organisasi merupakan hasil gabungan dari setiap pribadi.”
Panggilan yang akrab kepada orang-orang yang bekerja di perusahaan Wal-Mart, Amerika Serikat — sebagai kerabat, dan bukannya pegawai — merupakan kunci keberhasilan bisnis yang bergerak di bidang makanan itu. Sam Walton, pimpinan Wal-Mart yang dijuluki “Mister Sam” memang memperhatikan semua pegawainya. Semua manajer terdorong untuk mengenakan badge di dada yang bertuliskan “Kita memperhatikan warga kita.” Kegemilangan sukses yang diraih Wal-Mart adalah berkat dorongan Sam Walton. Dia meluangkan waktu untuk terjun ke lapangan. Sekali setahun Mr. Sam mengunjungi kedai-kedainya yang berjumlah 330 lebih itu. Budaya kunjungan keliling ini telah dia tegakkan sejak 1962.
Ciri khas yang paling mengesankan dari perusahaan-perusahaan yang sukses tersebut adalah cara mereka meningkatkan status para pegawai secara pribadi. Di sini, harga sang manusia memang dijunjung tinggi. Kedengarannya sentimentil. Tapi kata “kerabat” di lingkungan Wal-Mart, “orang warga kita” di Dana Corporation dan sebutan lainnya lagi, menunjukkan betapa penting dan dihargainya fungsi serta martabat seorang individu.
Di Indonesia sebutan yang intim bagi karyawan perusahaan secara umum adalah “mitra usaha”. Mereka adalah subyek dan pelaku pembangunan, bukan hanya obyek dan sasaran pembangunan. Pengangkatan derajat ini dimaksudkan untuk mendorong produktivitas kerja dalam perusahaan pada khususnya, dan negara pada umumnya. Pengusaha dan pekerja, saling memerlukan, sebab tak ada pihak yang satu tanpa pihak yang lain. Keduanya patut menghormati peranan dan tugas masing-masing dalam proses produksi.
Memanusiakan manusia, dan tidak menganggap manusia sebagai komoditi, barangkali merupakan pencerminan sikap menghargai manusia. Sumber daya manusia begitu potensial untuk berbagai bidang kegiatan. Kegagalan banyak perusahaan di Indonesia memang lebih disebabkan oleh ketidakmampuan mengenali potensi itu. Akibatnya manusia lebih menjadi beban daripada sumber daya. Karena itulah mereka lebih memilih pemecatan pegawai daripada melakukan terobosan usaha yang sebenarnya dapat dilakukan melalui potensi sumber daya itu.
Harga manusia, berapa besarkah? Dia memang lebih berharga daripada nilai gedung yang terbakar hangus atau pun besarnya uang yang ludes di pasar bebas. Martabat manusia ditentukan oleh kemampuannya bekerja produktif. Tantangan Henry Ford tadi, yang mengutamakan pekerja-pekerjanya untuk membangun usaha, merupakan semacam himbauan sekaligus keyakinan, bahwa keberhasilan usaha memang ditentukan oleh manusia-manusia yang unggul. Atau adakah yang lebih unggul dari manusia?