Prisma

Filem Indonesia dan Masyarakat Indonesia: Beberapa Catatan

Sepanjang sejarahnya, film Indonesia memang belum berhasil menjadi bagian dari media ekspresi kaum intelektual. Kegagalan Usmar Ismail merealisasikan cita-citanya menjadikan filem sebagai media ekspresi, harus dilihat sebagai kegagalan kaum intelektual Indonesia merebut media yang memungkinkan mereka melakukan kontak langsung dengan massa.

“FILEM-FILEM suatu bangsa,” menurut Sigfried Kracauer, “mencerminkan mentalitas bangsa itu lebih dari yang tercermin lewat media artistik lainnya.”$^1$ Ada dua alasan yang dikemukakan Kracauer untuk menupang teorinya. Pertama, filem adalah karya bersama, artinya, dalam proses pembuatan filem, sutradara memang pemimpin dari suatu kelompok yang terdiri dari berbagai seniman dan teknisi. Tapi dalam proses kerja, sutradara tidak bisa menghindar dari mengakomodasikan sumbangan berbagai pihak. Kedua, filem dibuat untuk orang banyak. Dan karena memperhitungkan selera sebanyak mungkin orang itulah maka filem tidak bisa jauh beranjak dari masyarakatnya. Sulit rasanya membayangkan seorang pemilik modal membiayai seorang sutradara, bagaimanapun hebatnya, untuk membuat film yang pasti tidak akan disenangi orang banyak.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan