Angkatan muda kini tampak seperti memikul “beban sejarah” berupa peran mahasiswa ditahun-tahun 1966, 74 dan 78. Kalah dan menang di masa-masa tersebut ditentukan oleh sebuah tolok ukur. Sjahrir mengusulkan tolok ukur baru yang meniadakan tolok ukur yang lama, dan sekaligus menghilangkan beban sejarah yang kini mereka pikul.
SEBAGIAN dari mereka adalah segolongan manusia yang amat giat berdiskusi. Sebagian lain dari mereka juga golongan masyarakat yang sibuk berkuliah dan mempersiapkan diri bagi karier di birokrasi pemerintahan dan dunia swasta yang penuh kesempatan dan kesempitan. Benar atau kurang benar, di pundak mereka semua ada beban “kesejarahan” dari tradisi angkatan muda yang menjadi pelopor perubahan. Angkatan-angkatan 08, 28, 45, 66 dan 74 serta 78 baik yang berhasil maupun yang kurang berhasil selalu berorientasi pada perubahan dari “status-quo” ke situasi baru yang setidaknya mengundang harapan baru pula. Kisah masa lalu itu sudah jadi ritus yang sah.