Irigasi tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas dan intensitas tanaman padi, tetapi juga meningkatkan penggunaan varitas unggul, pupuk kimia serta efektivitas serta efisiensi penggunaan teknologi baru. Namun manajemen irigasi di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan pembangunan fisiknya, sehingga pertumbuhan luas wilayah irigasi lebih tinggi dari laju pertumbuhan luas panen.
DALAM tahun-tahun permulaan setelah disebarkannya varitas padi unggul pertama oleh IRRI (International Rice Research Institute) dalam tahun 1960-an, banyak yang memperkirakan bahwa swasembada beras akan dicapai oleh negara-negara yang sedang berkembang dalam waktu yang singkat. Penemuan baru itu dianggap sebagai suatu revolusi dengan nama Green Revolution (penggunaan varitas unggul baru, pupuk kimia, dan pestisida). Tetapi beberapa tahun kemudian dirasakan berbagai hambatan (constraits) dalam mensukseskan Revolusi Hijau tersebut.1 Salah satu hambatan yang paling penting ialah belum tersedianya air irigasi yang mencukupi dan yang dapat dikontrol.2 Pentingnya air irigasi untuk suksesnya Green Revolution telah banyak dibahas para ahli.3 Istilah Blue Revolution telah digunakan untuk menekankan pentingnya irigasi yang cukup dan terkontrol. Green Revolution tidak akan berhasil tanpa adanya Blue Revolution. Tersedianya air irigasi yang cukup dan terkontrol tidak saja merupakan input kunci untuk meningkatkan produksi padi, tetapi juga merupakan unsur yang vital untuk efektifnya penggunaan teknologi yang lebih baik (teknologi yang lebih baik) yakni varitas unggul yang berdaya hasil tinggi, berumur pendek, pupuk kimia dan pestisida.4
* Artikel ini adalah pidato yang diucapkan pada upacara pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap Ekonomi Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Andalas di Padang, 6 Februari 1988.
1 CR Wharton Jr. (1969). “Revolusi Hijau: Cornucopia atau Kotak Pandora?”, Urusan Luar Negeri, Vol. 47, No. 3, hal. 464-476.
2 Dari 80 juta hektar sawah di 16 negara hanya 2% yang telah cukup irigasinya (lebih dari 50 m saluran/ha), 33% belum cukup irigasinya, dan sisanya yang 65% masih merupakan sawah tadah hujan (APO 1977:13).
3 Lihat misalnya: Wharton, Op.cit.; W.P. Falkon, “Revolusi Hijau: Generasi Masalah”, American Journal of Agricultural Economics, vol. 52, 1970, hal. 698-710; R. Barker, “Sifat Evolusi Teknologi Beras Baru”, Studi Institut Penelitian Pangan, vol. X, No. 2, Universitas Stanford: 1971, hal. 117-130; “Seminar Pengelolaan Air Pertanian Manila”; Makalah Irigasi dan Drainase, No. 12, FAO Perserikatan Bangsa-Bangsa, Roma, 1972; R.T. Shand, Perubahan Teknis dalam Pertanian Asia, Australian National University Press, Canberra, 1973; R.W. Herdt dan T.H. Wickham, Exploring the Gap between Potential and Actual Rice Yields: the Philippine Case, dalam IRRI, Economic Consequences of the new Rice Technology, Los Banos, Philippines, 1978; PEO-ANU, Program Varietas Hasil Tinggi di India 1970-1975, Bagian II, Government of India Press, New Delhi, 1976; Ingrid Palmer, The New Rice in Asia: Conclusions from Four Country Studies, United Nations Research Institute for Social Development, Jenewa, 1977; D.C. Taylor, “Pembangunan Pertanian Melalui Aksi Kelompok untuk Meningkatkan Distribusi Air dalam Sistem Irigasi Aliran Gravitasi Asia”, Forum Pengajaran dan Penelitian, No. 1, New York, 1976, hal. 1-23; L.A. Mears, “Masalah Pangan Indonesia Pelita II/III”, Ekonomi dan Keuangan Indonesia, vol. XXIV, No. 2, Jakarta 1976, hal. 99-121; Pengelolaan Air Pertanian untuk Budidaya Padi, Organisasi Produktivitas Asia (APO), Tokyo, Jepang 1977; D.C. Taylor dan T.H. Wickham (Eds), Kebijakan Irigasi dan Manajemen Sistem Irigasi di Asia Tenggara, A/D/C, Bangkok 1979; S. Asnawi, “Irigasi dan Kinerja Teknologi Padi yang Ditingkatkan: Studi Kasus di Sumatera Barat Indonesia”, tesis Ph.D, Australian National University, Canberra, Australia, 1981, tidak diterbitkan; R. Barker dan R.W. Herdt, The Rice Economy of Asia, A Book from Resrouces for the Future, 1984; S. Asnawi dan R.T. Sand, “The Economic Impact of Irrigation in West Sumatra, Indonesia”, sebuah peper yang disajikan pada workshop tentang: Recent Empirical Research on Irrigation Systems in Southeast Asia, di Bangkok, Thailand, 1985; dan R. Wade, Ketenagakerjaan, Pengendalian Air dan Lembaga Pasokan Air: India Selatan dan Korea Selatan, LLO-ARTEP, Bangkok, 1982.
4 S. Asnawi, 1981, op.cit.