Keterbatasan pendekatan yang mengandalkan “penetesan ke bawah” hasil-hasil pembangunan, menimbulkan kesadaran bahwa masyarakat perlu diikutsertakan secara lebih aktif dalam proses pembangunan itu. Pada 1970-an labirlah jenis Lembaga Swadaya Masyarakat yang memperjuangkan ini. Artikel ini berusaha menelaah keadaan dan prospek masa depan LSM dalam konteks perkembanganperkembangan sosial terakhir.
SELAMA dua dasawarsa terakhir, pemerintah di banyak negara sedang berkembang mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap masalah pembangunan. Di Indonesia, pemerintah mengerahkan segala daya upaya untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka pembangunan pedesaan yang lebih luas. Sejak beberapa tahun yang lalu dan hingga sekarang, Indonesia telah mencapai swasembada beras.1 Meski demikian, masalah kemiskinan di pedesaan masih ada, dan seperti halnya dengan banyak negara di dunia, nasib “masyarakat miskin” kota tetap merupakan persoalan. Menurut beberapa tolok ukur yang diterima secara umum, tingkat kemiskinan tampak meluas dan semakin intensif. Di Indonesia, sebagian dari lapisan masyarakat ekonomi rendah masih terbelenggu oleh kemiskinan mutlak.
1 Karena “keberhasilan” ini, Presiden Suharto diundang untuk berpidato pada Konferensi FAO 1985 di Roma sebagai wakil negara-negara Selatan.