Islam memainkan peranan penting dalam proses pendewasaan Orde Baru, dan kini, ia memiliki peranan yang lebih kompleks. Karena itu, Islam di Indonesia sedang mencari jalannya sendiri, yang dipikirkan secara mandiri dengan memperhitungkan sejarah nasional kita dan perjalanan geopolitis dunia. Sebagai salah satu kekuatan politik di Indonesia. Islam harus turut serta membangun negeri ini sambil menetapkan prioritas-prioritas baru.
“Seluruh pintu baik bagiku untuk melangkah ke ambang pintu sejarah yang berbagai macam. Tak seorang pun dari kita, sayangnya, yang dapat mengenalnya semua. Ahli sejarah, pertama-tama, akan membuka pintu yang paling dikenalnya. Namun seandainya ia mencoba melihat sejauh mungkin, pasti dia akan mengetuk pintu lain, lalu pintu lainnya lagi … Setiap kali akan terlihat sebuah pemandangan baru atau sedikit berbeda. Tak ada sejarawan yang sebenarnya yang tak pandai merangkai sejumlah pemandangan itu: pemandangan kebudayaan dan sosial, kebudayaan dan politik, sosial dan ekonomi, ekonomi dan politik, dan seterusnya. Sejarah akan menyatukan, menggabungkan semuanya sebab sejarah ialah gabungan dari pemandangan-pemandangan yang saling berdempetan, saling berbagi dinding, dari seluruh interaksinya yang tak mengenal ujung …” Fernand Braudel
SAYA ingin memulai tulisan ini dengan mengutip pandangan terhadap Islam dari seorang sarjana dan “ulama moderen” yang lagi in di kalangan umat Islam kota terpelajar terutama di Bandung: Jalaluddin Rakhmat. Dia menulis “Riwayat Islam di Indonesia adalah riwayat umat yang selalu berhimpun untuk berpecah. Sarekat Islam berkembang dengan memobilisasikan berbagai kekuatan Islam dan mencapai puncaknya dalam pertikaian internal.