Prisma

Masihkah Politik Jadi Panglima?

Politik Kesusasteraan Indonesia Mutakhir

Meskipun hanya salah satu ragam yang sekarang ada, kesusasteraan yang diresmikan tampak paling mendapat perhatian umum. Menyempitnya perhatian umum ini merupakan bagian dari proses politik dalam kesusasteraan maupun tata politik masyarakat luas. Yang menonjol dari sastera yang diresmikan itu adalah sifatnya yang apolitis. Namun, kesusasteraan bukan cerminan pasif kekuasaan, walau juga tidak menghuni wilayah yang otonom sepenuhnya.

SALAH satu ciri menonjol kesusasteraan Indonesia mutakhir yang sering disebut para pengamat ialah wataknya yang “apolitis”. Salah satu ciri menonjol yang disebut-sebut para pengamat politik atas masyarakat yang sama ialah gejala “depolitisasi”. Pertanyaan yang cenderung menggoda ialah: apakah kesusasteraan yang “apolitis” itu dibentuk oleh proses “depolitisasi” yang berlangsung dalam masyarakatnya?

Tulisan ini mencoba meninjau kembali penilaian umum tentang kesusasteraan “apolitis” dalam masyarakat yang “depolitis” itu. Uraian ini berpokok pada beberapa pertanyaan: sejauhmana penilaian itu benar, jika benar demikian; apa ujud “apolitis” kesusasteraan tersebut, apa saja kemungkinan penyebabnya; apa masalah teoritis dan metodologis yang muncul dalam kajian tentang hal-hal itu? Keempat-empatnya pertanyaan itu berkaitan erat. Karena itu ia tidak akan dibahas satu per satu dalam uraian yang terpisah-pisah. Tulisan ini pada intinya berupaya mencari gambaran makro dan sifatnya tak lebih dari garis besar suatu kerangka agenda untuk kajian lebih lanjut. Detail persoalan dan acuan pada tulisan-tulisan lain akan diberikan secara minim saja.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan