Sastera Indonesia selama Orde Baru adalah ibarat sebuah roda yang berputar. Pada awalnya, ada kecenderungan terhadap sejenis fantasi dan simbolisme, yang tak berkembang pada periode sebelumnya, tetapi yang juga membatasi komunikasi dengan pembaca luas. Reaksi terhadap ini muncul pada 1980-an, dengan perumusan sastera kontekstual, yang kembali mengangkat masalah sosial dan mengkomunikasikannya dalam cara yang mudah dicerna.
Antara 1945 dan 1965, setidak-tidaknya dua generasi penulis yang telah memberikan dampaknya pada perkembangan sastera Indonesia modern. Angkatan ’45, yang mewakili suara generasi Indonesia terakhir berpendidikan Belanda, digantikan tempatnya di sekitar pertengahan 1950-an, oleh penulis dan penyair muda berpendidikan Indonesia dan berorientasi kedaerahan, yang mendapatkan nama Angkatan Terbaru. Untuk beberapa waktu, kedua generasi ini, dengan penekanannya masing-masing, hidup secara berdampingan. Unsur-unsur dari kedua-duanya hadir dalam kelompok-kelompok yang didefinisikan secara ideologis, yaitu Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Manifes Kebudayaan, yang dominan pada awal 1960-an.1 Gambaran ini menjadi sedikit kacau ketika H.B. Jassin mengidentifikasikan kemunculan sebuah angkatan – Angkatan ’66 yang pada dasarnya adalah Angkatan Terbaru yang didefinisikan kembali menurut peristilahan politik dan historis2
1 Untuk pembahasan terbaru tentang politik kesusastraan awal 1960-an lihat Gunawan Mohammad, “peristiwa Manikebu” : Kesusastraan Indonesia dan Politik di Tahun 1960-an”), Refleksi, Tempo, Mei 1988
2 H.B. Jassin, “Bangkitnya Satu Generasi” dalam Angkatan ’66, Prosa dan Puisi, Vol. I (Jakarta: Gunung Agung, 1976), hal. 1-21.