Indonesia dapat digolongkan sebagai negara industrialisasi akhir-akhir-akhir. Persoalan timing melakukan industrialisasi ini berhubungan dengan campurtangan negara dalam kebijaksanaan ekonomi, dan dengan struktur politik maupun pilihan industri. Dalam sejarah industrialisasi pada masa Orde Baru ini, peranan Jepang pun, melalui negara, ikut menentukan kebijaksanaan ekonomi dan pilihan industri di Indonesia.
PEMBANGUNAN industri Indonesia di alam Orde Baru meningkat pesat dengan membawa pelbagai akibat kepada struktur politik maupun pembangunan ekonomi. Tabel 1 menjelaskan peranan industri ini kepada GDP yang meningkat pesat terutama pada periode antara 1970-1980. Jepang memegang peranan penting di dalam hal ini didorong oleh kebutuhan internal, yaitu restrukturisasi industri serta tekanan eksternal yaitu Nixon shoku (Nixon shock) dan oil shock. Sementara itu di dalam negeri Jepang sendiri terjadi penyesuaian politik ketika pemerintahan yang dipegang Perdana Menteri Eisaku Sato, suatu fraksi yang kuat dari LDP yang didukung oleh Kishi, digantikan oleh fraksi besar LDP lain di bawah Kakuei Tanaka. Tanaka yang membuat upaya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. Sementara itu Indonesia merupakan negara yang memiliki comparative advantages yaitu tersedianya minyak dan LNG serta bahan-bahan mentah lain, dan tersedianya buruh murah dan populasi yang besar yang menjanjikan pasar yang luas. Ada lagi perkembangan politik yang menarik, yaitu kemenangan Golkar dengan suatu landslide didalam pemilihan umum 1971, pertama kali diadakan setelah selama enambelas tahun.1 Kemenangan Golkar bisa dilihat sebagai suatu jaminan stabilitas politik Orde Baru dengan koalisi pendukung yang lebih menerima bantuan dan peranan. luar negeri, yang menarik kepentingan asing termasuk dari Jepang.
1 Masashi Nishihara, Golkar dan Pemilu Indonesia 1971, Seri Monografi, Proyek Indonesia Modern, Universitas Cornell (Ithaca: Cornell University Press, 1972) hal. 42.