Bahasa tidak hanya dibentuk dan ditentukan, tetapi juga membentuk dan menentukan sejarah sosial. Bahasa bukan sekadar “alat” untuk mengungkapkan pikiran dan tidak mampu memenuhi kebutuhan komunikasi pribadi tidaklah layak jadi kekuatan pembentuk pikiran-perasaan dan suatu tata sosial yang sebelumnya tak ada. Bagaimanakah proses sosial sejarah sosial yang mendorong perubahan dari masyarakat ber(ba)sa ke masyarakat ber”bahasa”.
SAAT ini kita hidup dalam kurun sejarah dan masyarakat yang membujuk kita percaya seakan-akan bahasa merupakan sesuatu yang “universal”. Kurun sejarah ini ditandai oleh industrialisasi yang kini disebut juga sebagai “pembangunan”. Masyarakat yang dimaksudkan di sini ialah “bangsa”. Menurut pandangan yang dominan dalam sejarah masyarakat ini bahasa dianggap terdapat dalam segala masyarakat di segala zaman. Tulisan ini mengajukan suatu kritik terhadap pandangan yang ahistoris demikian.
Bahasa, dalam pengertian pokok yang kita kenal sekarang, merupakan produk sejarah sosial yang agak mutakhir. Uraian berikut mencoba menjelajahi sejarah terbentuknya “bahasa” di Nusantara. Pembahasan yang akan kita ikuti berikut ini mungkin akan tertumbuk pada suatu kesulitan yang sulit dihindarkan. Sumber kesulitan itu telah disinggung tadi, yakni sejarah sosial kita yang membatasi cakrawala pandangan dan kesadaran untuk menengok sejarah sosial yang lampau secara memadai. Dalam wujudnya yang paling praktis, bahasa yang kita kenal sekarang — seperti yang sekarang saya gunakan — tidaklah siap-pakai untuk menjelaskan sejarah sosial yang perlu kita kaji. Namun dengan segala keterbatasannya, bahasa ini akan kita coba gunakan semaksimal mungkin.