Pembangunan di dunia III, biasanya didasarkan mitos bahwa pertumbuhan ekonominya selalu beriringan dengan distribusi tidak merata. Ini tidak berlaku untuk Korea Selatan, karena pertumbuhan ekonominya yang tinggi bergerak bersama kenaikan upah riil di sektor pengolahan. Dengan demikian, analisis “pembangunan yang bergantung”, apalagi analisis “berkembangnya keterbelakangan”, tidak terlalu tepat untuk mengamati perkembangan empiris di Korea Selatan.
YANG membuat industrialisasi kapitalis di Korea Selatan unik dan berbeda dari negara-negara industri lainnya adalah, kenyataan bahwa Korea Selatan tidak sesuai dengan analisis “pembangunan yang bergantung” (pembangunan dependen), apalagi dengan analisis “berkembangnya keterbelakangan” (pembangunan keterbelakangan). Sejak tahun 1961, kecuali pertumbuhan yang negatif pada tahun 1980, perekonomian Korea Selatan mengalami pertumbuhan secara terus menerus. Dan lebih penting lagi, sektor pengolahan (sektor manufaktur) telah menghasilkan kenaikan yang nyata dalam upah riil, dan memberikan sumbangan terhadap perluasan permintaan dalam negeri, tidak hanya berasal dari kalangan elite saja, tetapi telah mencapai masyarakat umum. Walaupun kemiskinan, kondisi kerja yang buruk, dan juga tekanan politis telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Korea Selatan, tetapi kenaikan upah riil telah memberikan dampak yang nyata pada perluasan pasar nasional dan sekaligus memperlihatkan bahwa perekonomian Korea Selatan berorientasi dalam negeri (domestik) maupun luar negeri (ekspor). Mengingat sektor pengolahan adalah sektor ekonomi yang penting, maka menjadi penting untuk mengetahui alasan-alasan mengapa terjadi kenaikan pada upah riil. Hanya dengan mempelajari perjuangan kelas, nasionalisme Korea Selatan serta peranan negara dalam mendorong perekonomian, dapat dijelaskan persoalan kenaikan upah riil tersebut di sektor pengolahan.
* Tulisan ini adalah tesis BA penulis di Univ. of California, Santa Cruz, dan pernah dimuat dalam Journal of Contemporary Asia, Vol. 17, No. 4, 1987.