Prisma

SURVAI: Repelita V dan Strategi Perekonomian Jangka Menengah Indonesia

PROSES perencanaan di Indonesia selama dua dasawarsa terakhir dihadapkan kepada kesulitan besar oleh karena gejolak harga minyak bumi sehingga sasaran ekspor, pendapatan dan anggaran belanja yang semula direncanakan, menjadi kadaluwarsa pada saat rencana tersebut dilaksanakan. Dibayangi oleh prospek perekonomian dunia yang tak menentu, Indonesia memasuki dasawarsa 1990-an dengan tidak banyak lagi bergantung kepada gejolak harga minyak bumi sebagaimana sejak akhir dasawarsa 1960-an, dan bahkan kurang bergantung kepada gejolak harga dari beberapa komoditas utama, dibandingkan selama abad ini. Repelita V secara gamblang menegaskan bahwa diversifikasi di bidang ekspor yang mengurangi ketergantungan kepada harga minyak bumi, harus dilanjutkan hingga dasawarsa 1990-an dan seterusnya. Demikian pula ditekankan perlunya lebih digalakkan penerimaan dari pajak dalam negeri, bukan hanya untuk menggantikan pemasukan dari pajak perusahaan minyak bumi melainkan juga untuk memperkecil ketergantungan kepada bantuan dan pinjaman luar negeri sebagai sumber keuangan guna membiayai pembangunan, serta memanfaatkan bantuan tersebut untuk membayar kembali hutang luar negeri beserta bunganya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan