Setelah 16 tahun berjalan, ternyata peranan modal asing dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi maupun memacu laju tabungan domestik, belum memperlihatkan hasil yang nyata. Sebaliknya, beroperasinya modal asing tersebut mulai memperlihatkan tanda yang negatif terhadap pembangunan nasional. Untuk itu, usaha mobilisasi dana dalam negeri kiranya pilihan yang tidak bisa ditunda, sementara modal asing hanya sebagai pelengkap.
PERGESERAN kepemimpinan nasional dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto pada tahun 1966 membuka cakrawala baru bagi Indonesia di bidang politik dan ekonomi.1¹ Keadaan ekonomi yang amat parah ditandai oleh inflasi yang beratus-ratus persen per tahun, tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah bahkan negatif pada akhir masa Orla. Ini masih ditambah lagi hutang luar negeri yang menumpuk dan tak terangsur kembali dari hasil ekspor yang hanya beberapa ratus juta dollar setahun. Serangkaian tindakan stabilisasi dan rehabilitasi segera diturunkan dalam semangat desentralisasi dan deetatisme. Reformasi kebijaksanaan terpenting yang dilakukan adalah: dibebaskannya sistem kontrol devisa, diberlakukannya kebijaksanaan anggaran berimbang sebagai alat stabilitas ekonomi, dibukanya pintu bagi modal asing melalui UU Penanaman Modal Asing (PMA) No. 1/1967, dan pemanggilan pulang devisa yang dimiliki penduduk Indonesia yang lari dan bermukim di luar negeri melalui UU Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) No. 6/1966.
*Tulisan ini berdasarkan Skripsi S1 penulis yang berjudul Analisa Dampak Arus Modal Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Tabungan Domestik: Indonesia 1969-1984, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 1988.
** Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Soelistyo, MBA atas bimbingannya dalam penulisan karya tulis ini.
1 Franklin B. Weinstein, Kebijakan Luar Negeri Indonesia dan Dilema Ketergantungan: Dari Soekarno ke Soeharto, Cornell Univ. Press, Ithaca dan London, 1976, hal. 19-41; Bruce Glassburner (ed.), The Economy of Indonesia: Selected Readings, Cornell Univ. Press, Ithaca and London, 1971, bab. 1, 2 dan 13.