Prisma

Ilmu Sejarah dan Kedudukan Sentralnya

Anthony Reid, Asia Tenggara di Zaman Perdagangan 1450-1680, Volume Satu: Tanah di bawah Angin, Yale University Press, New Haven dan London, 1988.

ILMU sejarah menurut B.R.O’G Anderson dari Cornell University, adalah ilmu yang memiliki kedudukan sentral dalam penelitian suatu masyarakat, meskipun kita tahu bahwa Anderson sendiri adalah seorang ahli ilmu politik yang memiliki kecenderungan meneliti sejarah. Tentu ini terdengar enak di telinga seorang sejarawan tulen seperti saya. Merenungkan ucapannya saya ikut yakin dan mengkonfirmasi suatu prasangka saya sendiri. Antropologi, sosiologi atau ilmu politik cenderung memberikan suatu keadaan fotografis dari suatu saat tertentu atau suatu bagian dari masyarakat. Ilmu-ilmu sosial tersebut semakin mengakui pentingnya sejarah bagi penelitian-penelitian mereka sendiri. Ini disebabkan karena sejarah menggambarkan suatu proses perkembangan dan juga menjelaskan bagaimana kita sampai tiba pada keadaan saat ini. Sejarah adalah suatu penelitian untuk melihat bagaimana masyarakat itu bergerak, berubah dan berkembang, dan juga sekaligus mempersoalkan unsur-unsur dinamikanya.1 Namun di Indonesia dan mungkin juga di negara-negara Asia Tenggara lainnya, ilmu sejarah dan sejarawan agak di anak tirikan, dianggap tidak relevan dan tidak dirasakan sebagai kebutuhan untuk mengenal dirinya, dan bahkan lebih jauh lagi.


1 Sidney W. Mintz, Rasa Manis dan Kekuatan: Tempat Gula dalam Sejarah Modern, Penguin Books, Inggris, 1987.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan