Pengamat perekonomian Indonesia umumnya, baik pada masa akhir penjajahan maupun dalam periode awal pasca kemerdekaan, pesimis terhadap prospek pertumbuhan pertanian, terutama tanaman pangan. Namun 15 tahun terakhir, pertumbuhan produksi pangan di Indonesia termasuk tercepat di dunia. Tulisan ini mengkaji alasan percepatan pertumbuhan tersebut dan konsekuensi distribusinya. Perbandingan dilakukan dengan episode percepatan pertumbuhan pertanian lainnya dalam sejarah mutakhir Asia, khususnya pada era Meiji Jepang.
Pembangunan Sebelum 1960-an
Sejak akhir abad ke-19 sampai awal 1970-an kesan terhadap perekonomian pertanian Indonesia pada umumnya adalah pesimisme. Kesan tersebut didominasi oleh peneliti seperti Boeke dan Geertz, yang menekankan pada ketidakmampuan petani Indonesia untuk menyerap teknik produksi moderen, khususnya penggunaan peralatan dari sektor lain seperti pemakaian pupuk kimia.1 Pesimisme seperti ini umumnya didasarkan pada perbandingan pembangunan antara Indonesia dengan Eropa dan Jepang. Baik Boeke, dalam karyanya dualisme ekonomi maupun Geertz, merasa bahwa prospek pesatnya pertumbuhan produksi tanaman pangan di Jawa sangat kecil, dan pandangan seperti ini dianut oleh ekonom asing lainnya pada 1960-an. Geertz lebih lanjut menyatakan bahwa “menuangkan pupuk pada sawah-sawah yang liliput di Jawa, tampaknya sama seperti menerapkan irigasi moderen, pertanian yang padat karya dan penganekaragaman tanaman, yang hanya akan menumbuhkan satu hal kemandekan.2
* Diambil dari World Development, vol. 17, no. 8, 1989, hal. 1235-1254.
1 Tulisan yang paling berpengaruh dari pengarang seperti ini adalah karya Geertz (1963) dan Boeke (1953).
2 Geertz (1963), hal. 146.