PERNAH terungkap sebuah kalimat sarkasme tentang pembangunan di Indonesia, yang menyatakan bahwa pertumbuhan GNP dalam sekitar dua dasawarsa jatuh bersamaan dengan ledakan diploma Ph.D. Di antara para Ph.D. ini, yang umumnya ekonom, mempunyai peran yang besar dalam penyusunan dan pelaksanaan perencanaan pembangunan di Indonesia.
Apa yang ingin dikatakan di situ, berkaitan dengan masalah tradisi pemikiran ekonomi kita. Tradisi yang ada sangat diwarnai oleh negara, tempat sebagian besar dari mereka pernah belajar. Ungkapan simbolik tentang berpengaruhnya kaum Mafia-Berkeley dalam pemerintahan, sebetulnya mengisyaratkan bahwa yang menjadi gurunya adalah negara Paman Sam dengan tradisi pemikiran Anglo-Saxon. Adapun yang menjadi landasan yang dipakai adalah, Mainstream Economic Theory, dalam arti pemakaian peralatan analisa utama seputar Keynesian atau Neo-Klasik yang dibakukan dalam teori ekonomi makro dan mikro. Selanjutnya, penggunaan model-model kuantitatif berupa ekonometrik, linier, programming, operation research dan lainnya yang sejenis, telah menjadi pilihan yang populer. Tradisi seperti ini digunakan, baik dalam menulis disertasi dengan kerangka makro, maupun terlebih-lebih lagi hampir menjadi baku dalam kerangka mikro seperti misalnya dalam bidang ekonomi pertanian.
*Penulis tengah menyelesaikan program Doktor di Institut Riset Ekonomi-Pembangunan (IREP-D, Grenoble), Perancis.