Prisma

Strategi Alokasi Tenaga Kerja pada Rumah Tangga Pedesaan Studi Kasus Desa Slendro, Kabupaten Sragen*

Penelitian tentang rumah tangga (rumah tangga) yang selama ini ada, seringkali hanya melibatkan interaksi antara individu di dalamnya, baik itu karena hubungan darah atau disebabkan alasan-alasan psikologis. Untuk mengetahui lebih jauh masalah rumah tangga dalam kaitannya dengan strategi alokasi tenaga kerja, maka ada baiknya selalu dihubungkan dengan konteks sosial-ekonomi dan kultur masyarakat di mana rumah tangga itu merupakan bagian darinya.

Masalah-masalah rumah tangga (household) dan keluarga (family) sebenarnya merupakan isu yang telah lama ada dalam penelitian ilmu-ilmu sosial. Ini disebabkan hampir setiap masyarakat, keluarga merupakan lembaga yang sangat penting dalam melaksanakan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat. Namun demikian pada dekade 80 ini, perhatian para pakar ilmu sosial terhadap masalah keluarga dan rumah tangga jauh lebih besar dari masa-masa sebelumnya. Ini pada dasarnya menunjukkan suatu upaya dalam mencari unit analisis yang tepat untuk dapat menghayati proses-proses perubahan sosial yang terjadi di masyarakat sebagai interaksi antara fenomena makro dan mikro.1 Pandangan ini didasari pada suatu anggapan bahwa fenomena sosial-ekonomi makro sangat mempengaruhi bentuk pola laku (behavior) pada skala mikro, dan sebaliknya pula bahwa fenomena mikro tersebut dapat mempengaruhi karakteristik proses-proses sosial ekonomi makro.


* Nama-nama pelaku yang digunakan dalam tulisan ini adalah nama-nama samaran.

1 D.L. Wolf, “The Javanese Family Revisited”, Annual Meeting of the American Residents Association, San Franscisco, California, April, 1986.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan