Prisma

Pertumbuhan Kapitalisme Cina Perantauan di Indonesia

Kapitalisme pada keturunan Cina Indonesia telah ada sejak zaman kolonial dan berkembang pesat pada masa Orde Baru. Perkembangan mereka merupakan bagian integral dari kebijaksanaan pembangunan ekonomi selama dua puluh tahun terakhir. Kemajuan di bidang ekonomi ini sebaliknya diikuti dengan serangkaian represi terhadap ungkapan kebudayaan mereka.

PADA mulanya terdapat semacam keraguan untuk membahas pertumbuhan kapitalisme di kalangan warga negara Indonesia keturunan Cina. Sebab seakan-akan pertumbuhan kapitalisme mereka dianggap kurang absah, tidak melalui prosedur hukum, atau karena memperoleh keistimewaan-keistimewaan tertentu. Pertumbuhan kapitalisme pasca 1965 merupakan bagian integral dari era Pembangunan Orde Baru. Dengan demikian, ini dapat diartikan ia memperoleh legitimasi, tidak dianggap aneh, dan bersifat alamiah. Sementara itu, terdapat cukup banyak sarjana ekonomi, politik, dan sosial yang mengisolasi perkembangan kapitalisme masyarakat Indonesia keturunan Cina ini. Yoshihara Kunio melihat perkembangan kapitalisme Cina Perantauan di negara-negara ASEAN sebagai ersatz capitalism.1


1 Yoshihara Kunio, The Rice of Ersatz  in Southeast Asia,  Oxford University Press, 1986. Dalam buku tersebut Kunio menganggap kapitalisme di Asia Tenggara bersifat ersatz dengan alasan bahwa sebagian besar modal ditanam pada sektor tersier; mereka kurang efisien dalam berkompetisi dalam pasar internasional; dan dalam pandangan kaum Muslim fundamentalis maupun kaum nasionalis-chauvinis, modal terbesar dikuasai oleh golongan nonpribumi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan