Pembangunan dan Demokrasi bukanlah konsep yang statis, tetapi harus selalu dilihat sebagai bagian dari perkembangan masyarakat. Untuk kasus Asia Tenggara, pengalaman “pembangunan” dan “demokrasi”nya bisa dikaji melalui aspek sejarah, letak geografis, kultur dan aspek keunikan yang lain dari wilayah itu sendiri.
ISTILAH pembangunan sebagai padanan kata development sesungguhnya tidak terlalu tepat, karena yang tersebut belakangan sekaligus juga berarti perkembangan. Bagaimana pun, kosa kata “pembangunan” telah mendominasi kehidupan kita dalam lebih dari dua dekade ini, dengan pengertian yang selalu merujuk pada kemajuan linier sejarah, dan tidak pernah ditafsirkan sebagai suatu proses kemunduran. Istilah ini juga mengandung makna meningkatnya kekayaan material. Namun, harus selalu diingat, bahwa meningkatnya budaya material tidak mesti bersesuaian dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, khususnya dalam hal-hal yang bersifat non-material. Lebih jauh lagi, kajian yang lebih mendalam terhadap sejarah suatu bangsa akan menunjukkan bahwa perkembangan sejarah tidak selalu merupakan kemajuan yang bersifat linier.
* Versi awal tulisan ini, dalam bahasa Inggris, pernah disajikan pada “Regional Training Workshop” yang diselenggarakan oleh SEAFDA, Jakarta, 1 Juni 1989. Untuk sumber-sumber dan gagasan pokok tulisan ini, saya berhutang budi kepada Dr. William H. Frederick dari Ohio University. Tetapi semua kelemahan ada dalam tanggung jawab saya.