1. Pengantar.
Berbagai perkembangan membuat masalah-masalah jang berhubungan dengan perusahaan-perusahaan ketjil mendjadi menondjol didalam usaha2 pembangunan di-tahun2 1970-an. Pertama, pengalaman pembangunan di-tahun2 50-an dan 60-an di-negara2 berkembang. Strategi pembangunan jang didasarkan atas tudjuan utama memaksimumkan pendapatan kotor dengan pengutamaan perusahaan2 relatif besar disektor modern sebagai pusat2 perkembangan, memang telah menghasilkan suatu tingkat kenaikan pendapatan kotor jang memuaskan (katakanlah 5% atau lebih per tahun). Tetapi dilain fihak keberhasilan ini telah berakibat mempertadjam berbagai masalah2 ekonomi dan sosial lainnja jang djustru ingin dipetjahkan melalui program pembangunan. Pengalaman2 pembangunan di-tahun2 1950-an dan 1960-an dibanjak negara terbelakang menundjukkan, bahwa kenaikan pendapatan kotor melalui pembangunan sektor modern dengan tjiri perusahaan relatif besar dan efisien, telah diikuti pula dengan perbedaan pendapatan semakin melebar, pengangguran semakin meningkat, perbedaan perkembangan antar daerah jang semakin tadjam dengan segala konsekwensi sosial dan politisnja.
Kedua, tuntutan sosial terhadap “persamaan” dan partisipasi pada saat ini sedemikian kerasnja, apalagi dinegara seperti Indonesia jang mendapatkan kemerdekaan melalui suatu perdjuangan fisik dan penderitaan bersama, sehingga sulitlah untuk mempertahankan strategi memperbesar pendapatan lebih dahulu dan pembagian lebih merata kemudian. Jang dituntut ialah bukan sadja memperbesar pendapatan, tetapi didalam proses perkembangan, pembagian djuga harus lebih merata.
Kenjataan2 diatas membuat para ekonom menindjau kembali kenaikan pendapatan kotor sebagai ukuran utama pembangunan; menindjau anggapan2 dan prioritas2 jang terkandung didalamnja. Dan semakin njatalah bahwa model ekonomi harus dituruti, bukanlah model ekonomi jang mengutamakan sektor modern dengan perusahaan2 relatif besar dan efisien; tetapi model ekonomi jang mengutamakan sektor tradisionil, dimana banjak perusahaan2 adalah perusahaan ketjil, relatif terbelakang dan tidak efisien.