PENDAHULUAN
Perentjanaaan wilajah di Indonesia masih merupakan suatu hal jang baru. Banjak jang menjangka bahwa wilajah sama dengan propinsi, djadi dibatasi oleh pembatasan administratif. Padahal wilajah (region) adalah suatu kesatuan ekonomi. Besar ketjilnja suatu wilajah ditentukan oleh djangkauan aktivitas transportasi. Bila transportasi buruk, maka akan terdjadi wilajah ketjil2 dalam djumlah banjak. Semakin baik transportasi semakin mendjadi satulah wilajah jang ketjil2 untuk mendjadi besar.
Mengingat bahwa Indonesia adalah negara agraris, maka biasanja satu wilajah ialah suatu daerah aliran sungai, misalnja Bengawan Solo, Tjitarum, dsbnja. Mungkin pula suatu koridor disepandjang djalan raya tertentu, misalnja koridor sekeliling poros djalan Balikpapan — Samarinda. Mungkin pula suatu dataran dimana produksi berlangsung setjara terkonsentrasi, misalnja wilajah sekeliling kota Medan, jang didjalin djaringan lalu lintas jang intensif. Begitu pula sekeliling Udjung Pandang.
Wilajah2 di Djepang terdapat didataran rendah jang kebanjakan berada ditepi pantai. Dengan baiknja lalu lintas, maka wilajah2 itu semakin lama semakin bergabung sehingga mendjadi ukuran jang besar, terbentang sepandjang pantai. Hubungan ini dilaksanakan melalui pelajaran pantai, kereta api dan djaringan djalan raya. Dengan semakin banjaknja djalan raya dibuat, maka terdjadilah sub-wilajah2 jang dahulunja terpisah, tetapi jang kemudian mendjadi satu dengan dimulainja terdjadi koridor dikiri-kanan djalan penghubung.
Dengan semakin lantjarnja arus lalu lintas, maka pengertian “hinterland” semakin menipis karena bahan baku bisa sadja didatangkan dari manapun. Sebagian besar bahan baku bagi industri di Djepang datangnja dari luar negeri. Bahan baku asal domestik-pun diangkut bersimpang-siur antar-wilajah.
Hasil industri Djepang bukanlah untuk interchange antar wilajah sadja, tetapi djuga dengan luar negeri. Dengan demikian bahan baku diimpor dan hasil-djadi diekspor. Sebenarnja hal ini adalah karena Djepang sendiri boleh dikatakan tidak mempunjai sumber2 alam jang tjukup untuk dapat mendjamin industrinja berputar sepenuhnja.
* Tulisan ini sebagai hasil kundjungan penulis ke Djepang pada Oktober 1971 s/d Djanuari 1972 chusus untuk melihat pengalaman regional planning negara tersebut.