Dan Kemungkinan2 Pengaruhnja Atas Proses Industrialisasi di Indonesia
Pengantar
Hampir identik dengan apa jang kita lihat dewasa ini dibidang pembangunan industri di Indonesia, dahulu Pemerintah Kolonial Belanda djuga mempunjai latar-belakang fikiran jang sama tentang perlu adanja usaha2 jang terpimpin dibidang kehidupan ekonomi ini. Furnivall mengemukakan, betapa “about 1900 the industrialization of Java was regarded as a master key to welfare.” 1 Ia mentjeritakan pula, betapa strategi ini dianggap oleh fihak Pemerintah Kolonial waktu itu sebagai tjara terbaik untuk menampung surplus penduduk disektor pertanian, dan untuk meningkatkan tingkat kemakmuran penduduk asli di Djawa jang kelihatan oleh mereka sebagai sesuatu jang terus djuga bertambah buruk. Lebih djauh dari ini, Belanda djuga ber-tjita2 “to promote industry for the benefit of the native population,” “ dan “ to call into existence native industry with native capital.” Putusnja hubungan dengan Negeri Belanda dan Eropah Barat pada umumnja, ketika Perang Dunia ke-I berlangsung, telah memaksa Pemerintah Kolonial ini untuk berusaha keras agar mereka bergerak tjepat didalam menggantikan barang2 impor dengan barang2 jang diproduksi didalam negeri, dan sekaligus djuga mengurangi ketergantungan ekspor Indonesia pada pasaran diwilajah induk tersebut. Djelas, ini tidak lain daripada strategi industrialisasi lewat penggantian barang2 impor, jang setjara besar-besaran dipraktekkan di Asia Tenggara dan Dunia Ketiga lainnja, pada dekade2 jang lalu dan malah hingga kini.
Didalam pelaksanaannja kebidjaksanaan ini praktis tidak mentjapai hasil2 jang spektakuler, dan sesudah Perang Dunia ke-I itu berlalu kebidjaksanaan ini tidak diperhatikan. Keadaan ini berlangsung terus hingga ketika deru Perang Dunia ke-II mulai terdengar oleh Pemerintah Kolonial jang konservatif ini, dan mereka sekali lagi dihadapkan pada masalah2 ekonomi jang sama seperti jang mereka pernah alami pada saat Perang Dunia ke-I berlangsung. Tapi akselerasi industrialisasi jang mendadak ini, tidaklah berlangsung lama. Ia terhenti ketika Djepang melantjarkan serangan tjepatnja kewilajah Asia Tenggara.
1 Untuk observasi Furnivall ini, lihatlah: J.S. Furnivall, Netherlands India: A Study of Plural Economy, Cambridge at the University Press, London, 1944, hal. 332—334.