Prisma

Unsur Manusia Dalam Proses Industrialisasi

Istilah “industri” biasanja menimbulkan bajangan dalam fikiran akan adanja pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan jang mengolah bahan mentah mendjadi barang djadi dengan menggunakan alat-alat seperti mesin-mesin dll., jang dilajani karjawan dengan ketjakapan tertentu. Pengertian industri sering dihubungkan dengan adanja mekanisasi, teknologi dan hal-hal lain jang datang dari negara jang telah lebih madju.

Ada jang mengatakan bahwa “industri” adalah suatu konsep “Barat”, sebagai usaha untuk mengedjar keuntungan, prestasi, pendapatan jang besar, dimana pada achirnja membawa pertumbuhan ekonomi dan kenaikan GNP negara. Dikatakan bahwa di “Barat”, semua itu dapat ditjapai berkat prinsip-prinsip dasar jang terutama ditekankan pada “ideologi” seperti efisiensi, prestasi, approach jang rasionil, management dan hubungan-hubungan jang formil, dsb. Dikatakan pula bahwa keadaan industri itu sendiri membawa suasana kerdja jang monoton, tekanan kerdja dan disiplin jang keras, mentalitas mesin, dsb.

Apabila di Indonesia akan dilantjarkan industrialisasi dengan bajangan pengertian seperti tersebut diatas, bagaimana keadaan dan kemampuan karjawan-karjawan Indonesia dalam usaha industri dan bagaimana pengaruh atau akibat industrialisasi itu sendiri terhadap kehidupan karjawan dan masjarakat umumnja di Indonesia?

Timbulnja pertanjaan ini antara lain karena adanja gambaran di Indonesia jang menundjukkan pola-pola pemikiran dan tjorak-tjorak kehidupan serta hubungan antar manusia jang berbeda dengan pola-pola dan tjorak-tjorak jang didjumpai dinegara industri dinegara lain. Ada gambaran jang menundjukkan bahwa di Indonesia belum ada “ideologi” jang menekankan pada prinsip-prinsip efisiensi atau pengedjaran prestasi. Achir-achir ini soal prestasi kerdja sering dibitjarakan orang, tetapi makna prestasi jang ingin ditjapai orang kita. Boleh djadi prestasi dalam arti “achievement” di “Barat” diwarnai oleh hal-hal jang bersifat materiil, sedangkan untuk sebagian dari orang Indonesia prestasi ditjapai apabila ia telah bisa berbuat seperti apa jang biasa dilakukan oleh seorang “feodal”, “prijaji” djaman pendjadjahan dulu. Ada gambaran pula jang menundjukkan bahwa hubungan antar manusia di Indonesia masih banjak diwarnai perasaan, menggunakan banjak basa-basi jang tak efisien, informil, berslogankan gotong-rojong jang kurang disertai zakelijkheid, tindakan-tindakan jang rasionil, dll. Gambaran-gambaran diatas tampak berbeda dengan pola-pola jang biasa ditemui dinegara-negara industri jang dikenal sebagai negara madju.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan