(Benedict R.O’G. Anderson,Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance 1944—1946, Cornell University Press, Ithaca—London, 1972, App., Bibl., Glossary, Index, 494 halaman)
Mircea Eliade adalah benar ketika ia mengatakan bahwa suatu peristiwa historis, setelah dibatasi oleh waktu, dapat mengalami transformasi menjadi legende.
Maka terleburlah realitas dengan gambaran yang diberikan terhadap realitas itu ke dalam “kenyataan” baru — kenyataan yang dirasakan sebagai wakil sesungguhnya dari peristiwa tersebut. Begitulah umpamanya pengalaman seorang pahlawan tercerna ke dalam epos. Demikian pula halnya dengan revolusi, apapun barangkali jenis dan coraknya, dapat menimbulkan gambaran-gambaran yang serba romantik atau malah mistis. Kejadian-kejadian yang sesungguhnya dalam peristiwa besar tersebut menjadi kurang relevan daripada nilai-nilai yang dipancarkan dan gambaran-gambaran yang dihidupkannya. Begitu keadaannya dengan Revolusi Inggeris, yang disebut sebagai “glorious”, begitu pula dengan Revolusi Perancis, yang telah didengungkan sebagai pencetus ide “liberté, egalite, fraternite”, walaupun menelurkan Napoleon, yang menjadi Kaisar.
Revolusi sering digambarkan seolah-olah merupakan tonggak batu teramat penting dalam sejarah ummat manusia. Jadi bukanlah suatu yang unik bila Revolusi Indonesia pernah pula didengungkan sebagai revolusi yang “multikompleks dalam satu generasi”, penuh dinamik, romantik dan sebagainya. Antara gambaran dari kenyataan dan kenyataan itu sendiri telah bercampur baur. Batas antara realita-yang-diduga dan realita-yang-dapat-dilihat telah mengabur—mengabur dalam suatu konsep yang berbau mitos. Inilah yang kemudian menjadi “fakta” sosial dan kulturil yang baru. Memang tidak hanya “kebenaran”, tetapi juga “kesalahan” atau “kekaburan” dapat membentuk “kenyataan-kenyataan”nya sendiri. Dan kita seakan-akan dicekam oleh nemesis dalam keterpukauan terhadap “kenyataan” semu tersebut.