Pendahuluan
Baru pada permulaan tahun 1950-anlah – dengan usaha-usaha rehabilitasi wilayah-wilayah Eropa dan sekitar Asia Timur yang dilanda perang – para ahli ilmu sosial seluruh dunia mulai mengalihkan banyak perhatian atas kebutuhan dan masalah mengenai apa yang ketika itu diistilahkan sebagai “negara terkebelakang” (negara-negara terbelakang). Kenyataan bahwa peristilahan telah berubah dari “terkebelakang” menjadi “tidak berkembang” (undeveloped) kemudian “belum berkembang” (underdeveloped) menjadi “sedang berkembang” (berkembang) menjadi “kurang berkembang” dan pada masa terakhir “negara-negara Dunia Ketiga” (negara-negara Dunia Ketiga), merupakan petunjuk atas hakekat pemikiran dan pengamatan yang terus berubah di kalangan para sarjana, teknokrat dan administrator. Di sini Penulis bermaksud menjejaki kembali secara ringkas beberapa perobahan besar dalam pemikiran dan pendekatan, dengan tujuan untuk menggaris besari beberapa alasan guna prespektif perencanaan yang membahas mengenai kebutuhan dan potensi kaum muda.