Peranan dinamik dari kaum profesionil modern untuk memodernisir daerah-daerah yang sudah lama dan baru berkembang, sudah sejak dulu diterima sebagai kenyataan yang tak perlu dipersoalkan lagi. Di kebanyakan negeri sedang berkembang itu sendiri, produksi kaum profesionil di universitas-universitas yang berkembang pesat, telah dianggap lebih penting dari pada produksi pertanian dan penciptaan pabrik-pabrik. Adanya para ahli yang tinggi mutu profesionilnya adalah suatu keharusan dalam setiap bentuk bantuan asing, sedang bakat usahawan (entrepreneur) diharapkan timbul dari para manajer profesionil yang memiliki gelar kesarjanaan dari Harvard Business School. Malahan masyarakat yang industrinya sudah sangat tinggi dari “dunia pembangunan pertama” dikatakan telah digerakkan oleh para profesionil ke dalam bentuk-bentuk eksistensi baru dibidang sosial dan ekonomi. Sebagaimana ditekankan oleh Talcott Parsons, “keterlibatan kaum profesionil, walaupun perkembangannya jelas masih belum memadai, tokh telah menjadi komponen tunggal yang sangat penting dalam struktur masyarakat modern. Pada mulanya kaum profesionil memang menggeser ‘negara’, dalam pengertian istilah modern yang agak lama, dan pada akhir-akhir ini, dalam pengertian organisasi perekonomian yang ‘kapitalistis’. Tampilnya keterlibatan profesionil secara besar-besaran, dan bukan timbulnya status istimewa model organisasi kapitalistis atau sosialistis, merupakan perkembangan strukturil terpenting bagi masyarakat abad ke dua puluh” (Parsons 1968: 545). Pandangan Parsons bertentangan dengan pandangan Marx yang menekankan peranan revolusioner kelas buruh industri. Jika kaum Marxis menekankan dialektika konflik kelas, pada timbulnya kelas-kelas baru yang dominan dan pada setiap tahap sejarah perkembangan sosial, maka para pengikut Parsons dan lain-lain kaum Neo-evolusionis menekankan pada timbul dan berkembangnya peranan-peranan sosial yang secara fungsionil penting sekali. Peranan pertama yang akan timbul dari proses diferensiasi sosial dalam masyarakat yang belum mengenal tulisan adalah peranan kaum “profesionil”, atau “proto-professional” (Moore 1970: 7, 23–29). Para pendeta dan dukun, pawang hujan dan tukang-tukang ramal, para shaman dan tabib merupakan dasar dari mana kompleks profesi modern mulai mengalami proses diferensiasi dalam gerak majunya ke depan. Dari analisa Parsons kelihatan bahwa bukan kaum entrepreneur kapitalis ataupun kaum pekerja industri, melainkan kaum profesionillah yang merupakan penggerak utama terhadap perubahan, modernisasi dan kemajuan. Biasanya kaum tani dipandang sebagai penghalang utama terhadap modernisasi dan sebagai “orang tradisionil” yang sangat menonjol dan dengan keras kepala menghalangi usaha pembaharuan yang rasionil! Sebaliknya, penduduk kota pembaca koran yang maju dan berpendidikan Barat, digambarkan sebagai pahlawan pembangunan dan modernisasi masyarakat.1 Jika kita mengartikan modernisasi sebagai penerimaan dan penerapan pengetahuan ilmiah yang makin meningkat (Alatas, 1973), maka kaum profesionil memang benar-benar mengambil tempat paling atas sebagai modernisator atau pembaharu.
* Tulisan ini berasal dari kertas karya berjudul “Specialization and Involvement: The Modernizing Role of Doctors in Malaysia and Indonesia“, yang diterbitkan oleh Department of Sociology, University of Singapore, Singapore 1973. Terjemahan kedalam bahasa Indonesia dilakukan oleh Hermaini Hazairin.