Sebagaimana halnya dengan banyak negara berkembang, salah satu persoalan paling sukar yang berkaitan dengan sektor industri Indonesia adalah kenyataan bahwa hingga kini tidak ada satupun teori ekonomi yang konsisten telah dirumuskan untuk memperlengkapi garis-garis besar strategi pengembangan industri secara efisien. Pemindahan konsep ekonomi Barat sering terlambat oleh masalah-masalah yang bersifat artifisial, teknis dan abstraknya teori-teori ekonomi bagi pembangunan negara sedang berkembang. Kebanyakan teori ekonomi membahas secara berulang-ulang yang itu-itu juga (tautologi) dan kiranya beralasan untuk menduga bahwa sifat yang berulang-ulang itu bercorak inter-kulturil. Tetapi, tautologi itu hanya ada artinya bilamana ada sesuatu yang non tautologis yang dapat diterangkan mengenai beberapa variabel. Salah satu ciri konsep ekonomi terlihat dalam metode untuk menggunakan logika dalam rangka mencoba dan mengatakan sesuatu yang relevan dan bermanfaat mengenai suatu masyarakat tertentu pada suatu saat tertentu. Untuk mencapai ini, asumsi yang mendasari teori tersebut haruslah tepat untuk masyarakat yang bersangkutan. Karena ilmu ekonomi membahas tentang tingkah laku perorangan dan institusi-institusi, maka asumsi tersebut harus secara kukuh didasarkan pada peristiwa-peristiwa sejarah, sosial, kelembagaan dan ekonomi bagi masyarakat yang akan terkena penerapan tersebut. Terdapat cukup banyak contoh di mana para ekonom telah memusatkan perhatian pada aspek-aspek yang keliru, kurang penting dan menyesatkan mengenai masyarakatnya sendiri. Bila kita mengambil contoh tentang hal-hal yang secara keseluruhan berlainan – sebagaimana yang terdapat di negara sedang berkembang tersebut – maka kita menyadari bahwa teori-teori ini tidak tepat untuk dijadikan dasar tindakan-tindakan kebijaksanaan. Sekalipun demikian lebih mudah mengeritik teori ekonomi neo-klasik, namun jauh lebih sukar mengatakan teori apakah yang akan dijadikan penggantinya, karena sesungguhnya untuk meruntuhkan teori yang ada, perlu adanya teori baru. Karena hingga dewasa ini tidak diketemukan adanya teori ekonomi yang benar-benar tepat untuk negeri sedang berkembang seperti Indonesia, maka kita terpaksa mendasarkan pertimbangan-pertimbangan kita pada satu-satunya teori ekonomi yang kita ketahui.1
Karena pemindahan teknologi merupakan bagian dari dorongan pengembangan industri, maka keputusan-keputusan ekonomi yang bertalian dengan itu sangat dipengaruhi oleh perhitungan-perhitungan investasi ekonomi makro dan mikro yang melandasi analisa konvensionil. Banyak kriteria pengembangan investasi dan ekonomi yang menunjukkan kelayakan, pelaksanaan dan trend proyek pembangunan ataupun kemajuan nasional yang sama sekali tidak sesuai untuk pembangunan ekonomi di Indonesia, dalam arti akan
Oleh M. Ziemek
Berikut adalah transkripsi verbatim dari gambar yang Anda unggah, dengan mempertahankan ejaan, tanda baca, cetak miring (italic), dan format teks sesuai dokumen asli secara presisi:
1 Mengenai ulasan lebih mendetail yang membahas kritik mengenai ketepatan teori ekonomi klasik untuk dipakai di negara-negara berkembang, lihat Frances Stuart, “Appropriate, Intermediate or Inferior Economics”, dalam Journal of Development Studies, Vol. 7, No. 3, April 1971, hal. 321-329.