Prisma

Pasaman Barat: Kasus Pembangunan Daerah Pinggiran*

Kenapa Pasaman Barat?

Gubernur Harun Zain, dalam mengantarkan hasil Laporan dari Team LTA-16 mengenai Rencana Pembangunan Pasaman Barat di muka sidang BAPPENAS tanggal 8 April 1975 yang lalu, secara bergurau menjawab pertanyaan itu dengan mengulangi kembali semangat frontier dari sejarah Amerika dengan mengatakan: “Go West young man!” Memang secara kebetulan bertemu tiga “Barat” dalam kasus Pasaman Barat ini. Pasaman Barat adalah bagian sebelah Barat dari Kabupaten Pasaman dalam wilayah Propinsi Sumatera Barat, yang perencanaan pembangunannya digarap oleh Team Jerman Barat.

Namun, dalam gurau ala cowboy itu terletaklah keseriusan pesan pembangunan yang digariskan dalam REPELITA II sendiri yang juga bersemangat frontier. Pilihan pada Pasaman Barat sebagai sub-region pertama di Indonesia yang pembangunannya digarap secara sistematis dan berencana, sekurangnyanya dilandaskan pada tiga hal berikut, yang sekaligus juga merupakan sasaran dari REPELITA II. Pertama, meratakan pembangunan antara daerah-daerah dan menghilangkan ketimpangan-ketimpangan dalam tingkat-tingkat pembangunan itu sendiri; kedua, memanfaatkan sebaik dan sebanyak mungkin potensi-potensi yang tersebar di berbagai daerah, baik dari segi kepentingan pembangunan nasional, maupun dari segi kepentingan pembangunan daerah yang bersangkutan; dan ketiga, dengan semangat frontier meratakan penyebaran penduduk.

Tujuan yang hendak dicapai dengan kasus Pasaman Barat ini tidak lain oleh karena itu adalah dalam rangka usaha menterjemahkan dan mengoperasionilkan secara mikro gagasan-gagasan pembangunan regional yang dalam tingkat nasional hanya sempat dituangkan secara makro. Dengan demikian terdapatlah dua jalur atas-bawah yang bersifat isi-mengisi, kontrol-mengontrol, dalam suatu feed-back system dari pola pembangunan regional; baik antara pusat dan daerah dan daerah dengan sub-daerah. Dipilihnya Pasaman Barat dalam rangka Sumatera Barat sendiri juga tidak terlepas dari rangka pengertian skematis dan sistem ini. Pasaman Barat dalam rangka Sumatera Barat kebetulan dalam banyak hal juga mencerminkan posisi Sumatera Barat dalam kerangka ekologi dan tata-ruang pembangunan nasional. Pasaman Barat adalah daerah pinggiran yang berada di lingkaran luar, yang penduduknya kurang, yang alamnya belum banyak dijamah tetapi memiliki potensi-potensi besar.


* Bahan-bahan untuk penulisan kertas ini sebagian besar berasal dari hasil survey dan penelitian dari Team LTA-16, yang hasilnya dibukukan dalam Laporan: Development Plan for West Pasaman/Sumatra–Rencana Pembangunan untuk Pasaman Barat/Sumatera, Bukittinggi, Maret 1975, 235 hal. Kertas ini lebih banyak bersifat memberi ikhtisar daripada memberikan tanggapan kritis tentang Laporan itu.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan