Pendahuluan
Adalah merupakan suatu anggapan umum bahwa media massa tidak sampai menyentuh desa-desa di Indonesia. Sampaipun desa-desa yang masih berada dalam jalur komunikasi fisik (jalan raya dan jalan kereta api yang baik), desa itu juga masih kurang sekali dilayani oleh media massa, dalam hal ini terutama adalah surat kabar atau berkala lainnya. Konstatasi-konstatasi yang sangat umum sudah sering sekali dikemukakan, antara lain oleh Dr. Soedjatmoko, yang menyatakan bahwa pers Indonesia bersifat “urban oriented”.
Jackson dan Moeliono di dalam penelitiannya pada desa-desa di Jawa Barat menyatakan bahwa “pengenalan media” (media exposure) di desa-desa ini masih sangat rendah.1Apa yang dikonstatir oleh Moeliono sebagai hasil penelitiannya itu juga kita jumpai di Jawa Tengah, di mana dalam sebuah penelitian tentang bahan bacaan (reading material) yang tersedia di Jawa Tengah, di sebuah desa minus di daerah Muntilan, tidak terdapat sama sekali bahan bacaan, baik surat kabar, majalah ataupun selebaran (pamflet). Satu-satunya tempat di mana terdapat harian dan surat kabar hanyalah di gereja,2 pada desa tersebut.
Dari hasil penelitian yang agak baru, yakni penelitian yang dijalankan oleh Universitas Indonesia, Universitas Pajajaran, Universitas Gajah Mada dan Universitas Hasanuddin untuk kepentingan BAPPENAS, juga ternyata bahwa pers kurang sekali peranannya sebagai sumber keterangan tentang program-program Pemerintah. Ini berarti bahwa pers sama sekali belum menyentuh desa, dan dari beberapa pencatatan yang juga dimintakan dalam penelitian itu, ternyata bahwa pers hanya terdapat di ibu kota Daerah Tingkat I dan II, dalam jumlah yang sangat terbatas. Radio sebagai
* Tulisan ini berasal dari kertas kerja yang diajukan untuk Seminar Intern pada Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia, tanggal 7 Februari 1974.
1 Karl D. Jackson and Johannes Moeliono, Communication and National Integration in Sundanese Villages: Implications for Communication Strategy, East West Centre Communication Institute, October 1972.
2 Penelitian Bahan Bacaan di Desa-desa di Pulau Jawa, dilaksanakan oleh penulis sendiri bersama Soemarsono, hanya sayangnya tidak diteruskan karena biaya tersendat.