Prisma

Wanita Kota: Sebuah Sketsa

Belum lama berselang kota Bandung agak digemparkan oleh suatu kejadian kecil. Sekelompok wanita dalam suatu panitia peringatan Kartini minta Dewi Rais berceramah mengenai wanita di gedung wanita. Dewi Rais menolak. Mengapa saya harus berbicara tentang wanita? Karena saya seorang wanita? Alasan seperti ini tidak mau diterimanya. Tapi gejala ini menggaris-bawahi lagi suatu kecenderungan kuat di antara wanita kota, yakni gerakan “dari, untuk dan oleh wanita”. Sebetulnya patutlah mengherankan mengapa wanita itu selalu menjadi bulan-bulanan. Selalu, sepanjang masa. Kita mengetahuinya, tapi kita tidak sepenuhnya mengerti. Kenapa pula dalam kitab-kitab suci perlu-perlunya ada ayat-ayat khusus mengenai wanita? Dalam Sara Samucchaya, misalnya, ada 24 sloka berturutan yang menyoroti wanita dengan nada yang pukul rata tidak berubah sampai sekarang. Apa kebiasaan ini memang diteladani dan diperintahkan oleh para hyang dan dewata? Manusia rupanya hanya mengikutinya saja, dan sekarang bahkan harus diserempakkan pula di bawah panji-panji “Tahun Wanita Internasional”. Kalau saja orang hendak berilham kepada Margaret Mead maka barangkali akan lebih menyenangkan bila orang menggarap Male and Female saja sekaligus. Dalam pernyataan yang menggemparkan Esther Vilar telah mengutuk direncanakannya Tahun Wanita Internasional itu (“Een Belediging voor de Man”, Panorama, 13 Desember 1974). Tapi arus tunjuk-menunjuk wanita ini sudah terlalu kuat, terlalu menaluri, terlalu melembaga. Segenap penghuni alamraya dan inderaloka sudah terlanjur takut untuk berhenti memperbincangkan wanita.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan