Prisma

Kurikulum Perguruan Tinggi: Perimbangan antara Beban Belajar dan Mengajar

Pendahuluan

Metode utama yang dipergunakan untuk belajar sejak berdirinya universitas yang pertama di Bologna, Italia pada tahun 1500-an adalah menghafal. Kurikulum formilnya yang pada dasarnya terbatas kepada Bahasa Latin, Bahasa Gerika, Alkitab (dengan kadang-kadang Bahasa Ibrani) yang disertai pula dengan interpretasi teologis dan sosial tentang dunia diajarkan oleh dosen dengan cara membaca bahannya berkali-kali kepada mahasiswa sehingga terhafalkan semuanya. Pada saat itu sumber pengetahuannya masih terbatas dan pengetahuan dosen diagungkan. Revolusi industri membawa serta tuntutan yang baru akan tenaga terdidik dalam bidang profesionil dan managerial. Universitas mulai melepaskan dirinya dari konsepsi dasar tahun 1500-an dan mempergunakan industri sebagai modal untuk mendidik pemuda-pemuda dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang baru serta ketrampilan intelektuil yang dibutuhkan oleh dunia industri. Perguruan tinggi sekaligus telah menjadi pula wahana bagi mobilitas-vertikal bagi golongan masyarakat menengah.

Kejadian terakhir ini memiliki implikasi yang besar terhadap proses belajar-mengajar pada perguruan tinggi. Pedagogik skolastik yang mengutamakan hafalan dan ulangan mulai disingkirkan oleh metode akademik yang mengutamakan pengumpulan data empiris serta berbagai teknik analisa ilmiah di dalam rangka menguji dan mencoba menemukan “kebenaran”. Dengan perkembangan perguruan tinggi yang terakhir ini, maka lenyaplah masa di mana mahasiswa dianggap sebagai botol-kosong yang perlu diisi dengan pengetahuan dosennya sampai tumpah-ruah.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan