“Dahulu tak seorangpun peduli pada negara-negara Arab. Mengapa sekarang semua mengharapkan kita jadi ‘Godfather’?” – Abdel Rahman Salam al-Atiki, Menteri Keuangan Kuwait.
Sejak dua tahun yang lalu negara-negara penghasil minyak anggota OPEC telah menjadi donor-donor bantuan ekonomi yang penting bagi negara-negara Dunia Ketiga yang tak punya sumber minyak. Sejak saat itu timbul pula perhatian yang makin meluas atas program bantuan mereka, hingga sebuah surat kabar penting di Inggeris menyatakan bahwa “tak pernah ada negara demikian bermurah hatinya dengan kekayaan mereka seperti telah ditunjukkan oleh negara-negara OPEC.” Fihak-fihak lain memuji apa yang mereka anggap sebagai “peranan Robin Hood” negara-negara OPEC yang mengambil harta dari negara-negara kaya dan membagikannya pada negara-negara miskin.
Para juru bicara OPEC sendiri mengemukakan bahwa mereka adalah “donor-donor bantuan keuangan kepada negara-negara yang sedang berkembang yang terbesar di dunia, juga penyumbang yang terbesar kepada dana-dana pinjaman Bank Dunia dan IMF.” Berulang kali pula terdengar pernyataan bahwa jumlah bantuan OPEC telah lebih dari mengkompensasikan kerugian-kerugian yang diderita oleh negara-negara sedang berkembang sebagai akibat kenaikan harga minyak. Telah pula dikemukakan di berbagai persidangan di negara-negara sedang berkembang bahwa bantuan OPEC akan berkembang lebih cepat daripada bantuan negara-negara donor yang tradisional, yang konon peranannya makin cepat menurun. Sebagai akibat dari semua ini, banyak yang percaya bahwa negara-negara OPEC bisa dan akan berusaha untuk menyediakan sumber-sumber dana bagi negara-negara sedang berkembang bukan penghasil minyak, dalam usaha mereka untuk memenuhi aspirasi-aspirasi pembangunan ekonomi.
Di lain fihak, berbagai peninjau menganggap berbagai pernyataan tentang transfer-transfer kekayaan dan bantuan dalam jumlah besar dari OPEC itu terlalu dibesar-besarkan. Mereka mengemukakan bahwa bantuan dari negara pengekspor minyak tidaklah besar, bahkan berada di bawah sejumlah milyar dollar yang muncul sebagai beban biaya tambahan bagi negara-negara berkembang bukan penghasil minyak, sebagai akibat kenaikan harga minyak. Lebih jauh dikemukakan, bahwa bantuan OPEC realisasinya serba lambat, dan sebagian besar bantuan OPEC itu hanya mengalir ke negara-negara dengan kepentingan politik yang sama.
* Artikel ini adalah terjemahan yang dipersingkat dari “The Aid Programs of the OPEC Countries” dalam Foreign Affairs, Januari 1976. Tulisan ini mencerminkan pendapat penulis sendiri, bukan pendapat anggota-anggota Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) ataupun anggota Komite Bantuan Pembangunan (DAC). Tanggung jawab seluruh pendapat yang dikemukakan di sini terletak di pundak penulis.
