Prisma

25 Tahun Transformasi 25 Desa di Jawa

William L. Collier, Kabul Santoso, Soentoro, Rudi Wibowo Pendekatan Baru dalam Pembangunan Pedesaan di Jawa Yayasan Obor Indonesia – Jakarta, 1996 xxxii + 188 halaman

Judul buku ini membersitkan 2 pertanyaan utama. Pertama, bagaimanakah transformasi yang terjadi selama 25 tahun pada desa-desa di Jawa. Apakah transformasi pada 25 desa tersebut dapat merepresentasikan keseluruhan transformasi desa-desa di Jawa? Kedua, apakah yang dimaksudkan dengan pendekatan baru dalam pembangunan pedesaan yang dikonstruksi di atas realitas 25 tahun transformasi pedesaan di Jawa? Apakah pendekatan baru sebagai sebuah strategi pembangunan akan memberikan sesuatu yang baru pula, sebagaimana yang telah diberikan oleh, misalnya Revolusi Hijau?

Metode Penelitian

Sekilas, karya ini merupakan hasil penelitian intensif selama 25 tahun yang dilakukan oleh para penulisnya. Hal demikian muskil dilakukan karena menyita waktu yang lama dan membutuhkan dana yang besar. Namun, karena ini merupakan produk dari beberapa kali penelitian yang dilakukan oleh banyak peneliti (bahkan mahasiswa) dengan keragaman metodenya (lihat Tabel 1 di bawah, untuk lengkapnya lihat Tabel 1 pada Buku bal. 8-12).

Singkatnya karya ini merupakan refleksi atas data yang panjang (1969-1993), yang diperoleh melalui 4 penelitian makro dan sejumlah penelitian mikro, lalu ditupang oleh penelitian sebelumnya (de Vries) dan dipertajam dengan penelitian akhir yang menggunakan metode Kajian Kilas Pedesaan (RRA = Rapid Rural Appraisal). Hal yang patut dihargai adalah ketekunan para peneliti dalam menghimpun data dari sekian penelitian dengan tujuan yang beragam tersebut.

Ada 2 metode yang dominan dan memiliki karakter yang berbeda yang dipakai dalam penelitian tersebut. Pertama, metode survai dengan teknik sensus, wawancara, dan wawancara mendalam. Menurut Effendi, karakter utama survai adalah “data dikumpulkan dari responden yang banyak jumlahnya dengan menggunakan kuesioner.”1 Teknik sensus dan wawancara (dengan kuesioner) merupakan teknik pengumpulan data yang lazim dikenal. Bila dalam survai itu juga digunakan teknik wawancara mendalam berarti menunjukkan digunakannya 2 pendekatan, yakni kuantitatif dan kualitatif.

Kedua, metode RRA — yang lebih dikenal dengan Memahami Desa secara Cepat di kalangan LSM — kelahirannya, menurut Chambersn2 memiliki landasan hirtoris, diantaranya, ketidakpuasan terhadap bias proyek, bias personal dan bias musim. Ketiga hal ini, tampaknya luput dari perhatian para penulis.


1 Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (Editor), Metode Penelitian Survai (Jakarta: LP3ES, 1989), hal. 25.

2 Robert Chambers, PRA, Memahami Desa Secara Partisipatif (Yogyakarta: Kanisius+Oxfam, 1996), hal. 24-25.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan