Problem korupsi di Asia selalu sangat menantang. Keragaman konteks sosialpolitik yang ada di masing-masing negara di Asia memang menantang para peneliti, pembuat kebijakan, dan aktivis antikorupsi untuk memahami situasi konteks, dan faktorfaktor penyebab korupsi. Asia juga menyediakan laboratorium antikorupsi yang sangat kaya untuk mengenali dan, yang lebih penting, untuk mendapatkan pembelajaran terkait perjuangan masing-masing negara dalam melawan korupsi.
Pada 2017, dengan mengacu hasil survei Corruption Perception Index (CPI) yang dilakukan Transparency International, skor negara- negara di Asia tampak sangat beragam. Singapura yang memiliki skor 84 menempati posisi tertinggi di Asia. Pada saat yang sama, Asia memiliki Afghanistan sebagai negara dengan skor terendah di Asia, yaitu 17. Skor rerata Singapura berada di papan atas skor CPI bersama dengan negara-negara Skandinavia, seperti Denmark (88), Norwegia (85) dan Swedia (85). Sementara skor Indonesia bertengger pada angka 37. Skor yang sama dengan skor Thailand. Sementara itu, Timor Leste, sebagai negara baru di Asia, mampu melampaui satu poin di atas skor Indonesia. Jika mencermati kecenderungan situasi korupsi di Asia, dengan skor CPI mereka yang selalu jatuh-bangun dan juga mengalami kemandekan pertumbuhan skor, kita bisa membayangkan betapa dinamisnya masalah dan usaha-usaha pemberantasan korupsi di Asia.