“Untuk kebanyakan negara-negara yang sedang berkembang di Asia, tugas terbesar yang perlu dilaksanakannya selama sisa abad ke-20 ini adalah administrasi dari transformasi besar masyarakat-masyarakat mereka,” demikian tulis Hahn-Been Lee dalam Prospects in the Pacific, sebuah buku yang khusus meneropong kekuatan-kekuatan dan kecenderungan-kecenderungan yang akan mempengaruhi perkembangan-perkembangan di Asia dan daerah Pasifik dalam dasawarsa tujuh puluhan.1¹
Pengalaman menunjukkan, bahwa proses pembangunan suatu masyarakat dapat dibagi ke dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah tahap penemuan identitas nasional: dalam tahap ini, suatu masyarakat mulai sadar akan kepribadiannya sendiri. Kesadaran ini menyatakan dirinya dalam bentuk nasionalisme, baik dalam bentuk ideologi maupun dalam bentuk tindakan. Lahirlah gerakan-gerakan pembebasan diri dari kolonialisme dan organisasi diri dalam wadah-wadah kenegaraan yang berlandaskan kebebasan politik dan kesatuan nasional. Tahap kedua adalah tahap transformasi masyarakat dan pengelolaan dari transformasi tersebut. Dalam tahap ini, pimpinan nasional secara sadar menanggulangi masalah-masalah pembangunan sosial, ekonomi dan pembangunan aspek-aspek lainnya dari masyarakatnya masing-masing. Esensi usaha pimpinan nasional pada tahap ini adalah mencoba sekaligus mempercepat laju perkembangan masyarakatnya serta mencoba merobah struktur dan sifatnya dari yang tradisionil menjadi modern. Setelah tahap kedua mendekati penyelesaian, mulailah muncul tahap ketiga, yakni tahap penyempurnaan. Ini meliputi timbulnya kesadaran baru pada tingkat yang lebih tinggi lagi, di mana berlandaskan atas hasil-hasil yang dicapai dalam tahap kedua, masyarakat mulai memperinci lebih lanjut sasaran-sasaran nasionalnya, baik di dalam negeri maupun terhadap dunia luar. Mulailah timbul masyarakat yang lebih kompleks.
1 Hahn-Been Lee, “Administrative Aspects of the Great Transformation in Asia,” dalam Richard L. Walker (editor), Prospects in the Pacific, Washington, D.C., Heldref, 1972