Benedict R. O’G. Anderson, Mitsuo Nakamura, Mohammad Slamet. Religion and Social Ethos in Indonesia. Monash University Centre of Southeast Asian Studies, 1977, ii + 61 hal.
Buku kecil tetapi sangat berharga ini berisi empat buah karangan pendek yang ditulis oleh tiga orang ahli tentang Indonesia dan disajikan sebagai ceramah untuk memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diselenggarakan oleh Australian-Indonesian Association (Himpunan Australia-Indonesia) di Victoria, Australia, bersama-sama dengan Pusat Studi Asia Tenggara Universitas Monash, pada tahun 1975. Dr. Mitsuo Nakamura menulis karangan yang berjudul Professor Haji Kahar Muzakhir and the Development of the Muslim Reformist Movement in Indonesia, Dr. Benedict R. O’G. Anderson menulis dua karangan, yaitu, Religion and Politics in Indonesia since Independence, dan Millenarianism and the Saminist Movement dan Drs. Mohammad Slamet menulis Privyati Value Conflict. Seperti yang tertera dalam judul karangan-karangan itu, ketiga penulis memusatkan perhatian mereka pada segi kehidupan agama dan nilai-nilai kejiwaan di Jawa, yang oleh Jamie Mackie disebut dalam kata pengantarnya, sebagai the social-cultural matrix of Indonesian life dan oleh karena itu bagi kita lebih menarik dan lebih penting dari aspek-aspek politik untuk memperoleh pengertian tentang latarbelakang dari apa yang sedang terjadi di Indonesia.
Karangan Dr. Nakamura dengan jelas memberikan peranan penting yang dipegang oleh Kiyai Haji Kahar Muzakhir dalam perkembangan reformist Islam, Muhammadiyah. Semenjak muda dia terkenal di Kotagede, Yogyakarta, sebagai pemuda santri, kemudian sebagai pemimpin mahasiswa Indonesia di Kairo pada tahun tigapuluhan dan akhirnya diakui oleh umat Islam Indonesia sebagai ulama intelek dan ustaz. Dalam menguraikan riwayat hidup Kiyai Haji Kahar Muzakkir, Dr. Nakamura berhasil melukiskan dan menonjolkan sifat-sifat penting dari kepribadiannya sebagai seorang Islam yang sangat taat, yang pada waktu mudanya dibersarkan dalam masyarakat Jawa yang bertradisi kuat. Kemudian kepribadiannya berkembang dan mengalami pengaruh langsung dari cita-cita reformist Islam selama 12 tahun belajar di Kairo, dan di tanah air dia mencoba melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam tersebut dengan berhasil. Dalam membicarakan ciri-ciri penting kepribadian Kiyai Haji Kahar Muzakkir, Nakamura membuat suatu pengamatan yang menarik dan perlu diberi komentar pendek di sini. Ia mengatakan, bahwa Kiyai Kahar Muzakkir menunjukkan tiga sifat yang menyokok, yaitu: sederhana, ramah-tamah dan ikhlas. Ia kemudian menerangkan, bahwa ikhlas adalah lawan (antonym) dari pamrih (Inggeris: selfish desire, concern for self-interest, halaman 14). Menurut pendapat saya, pengertian ikhlas (bahasa Jawa: eklas), dalam bahasa Jawa berasal dari suatu fadilah (virtue) mistik Islam yang diajarkan oleh Imam al-Ghazali, yang secara singkat dapat diberi arti, bahwa “amal manusia hanya didorong oleh keinginan untuk mendekati Tuhan, dan tidak dicampuri oleh alasan dunia atau pun kepentingan diri sendiri”. Ikhlas sebagai fadilah mistik dalam bahasa Jawa mempunyai arti yang sama dengan sepi ing pamrih dan kedua istilah tersebut sering dipakai sebagai suatu kata-majemuk: ikhlas, sepi ing pamrih atau seperti diterjemahkan oleh Dr. Nakamura: ikhlas without pamrih (halaman 14).