Prisma

AK Gani: Patriot Paripurna

Berbicara tentang tokoh politisi sekaligus militer di Sumatera pada masa revolusi, menurut Ruben Nalenan, pada dasarnya adalah Dokter Adnan Kapau Gani. Bergerak di bidang politik pada jalur kelompok nasionalis dia merupakan tokoh sentral yang punya segudang pengalaman. Seorang dokter dengan tarif sesuai kemampuan pasien; Menteri Kemakmuran pada beberapa Kabinet semasa Demokrasi Liberal, namun tetap miskin sampai ajal merenggutnya.

SOSOK manusia Dr. A.K. Gani adalah sosok kehidupan yang tegar, berani, dinamis, tangguh dalam prinsip perjuangan namun cukup realistis menghadapi kenyataan. Umumnya, parlente dalam penampilan, tapi kadang-kadang nyentrik. Sosok Gani selalu memperjuangkan hidup agar tetap hidup. Dalam menghadapi kesulitan, ia mampu membuat terobosan yang sulit dijangkau oleh orang lain. Karena itu, kemampuannya bertahan di pentas perjuangan dalam waktu lama sepanjang hidupnya patut ditiru. Gani bergerak dan berjuang dalam berbagai sektor kehidupan seperti politik, ekonomi, militer, pendidikan, bisnis, kedokteran, perfilman, dan diplomasi. Tapi semuanya itu terarah kepada usaha untuk membangun bangsa dan negaranya agar menjadi lebih makmur dan adil. Keinginannya yang begitu besar untuk membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu kemiskinan dan kehidupan yang meranggas tak dapat ditawar lagi. Itulah sebabnya, dia kurang memperhatikan warna kehidupan di sekitar keluarga dan dirinya sendiri.

Apabila kita ingin menyimak kehidupan ABRI sejak proklamasi, maka nama Gani tentu saja patut dihadirkan. Model yang hidup selama ini ialah bahwa nama Gani seolah-olah tercoret, bahkan terlupakan dalam sejarah kehidupan bangsa. Padahal, nama Gani seharusnya dijajarkan pada beberapa nama besar yang dikaitkan dengan pertumbuhan angkatan bersenjata kita di masa revolusi bersenjata. A.K. Gani, Suharjo Harjowardoyo untuk Sumatera, sedang

di Pusat dan di Jawa kita tampilkan nama Amir Syarifuddin yang menjabat menteri pertahanan beberapa kali, Sudirman, Urip Sumoharjo dan dapat ditambah pula nama T.B. Simatupang dan A.H. Nasution. Dalam periode ini, kita belum berbicara tentang Kalimantan dan kawasan Indonesia Timur karena memang ketika itu praktis belum dijangkau kekuasaan Republik dan mekanisme organisasi kemiliteran.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan