Filsafat Barat Moderen
Bahwa manusia dan budaya tak dapat dipisahkan adalah suatu kenyataan universal yang tak perlu langsung dimasalahkan. Tetapi bila kita dalam budaya mutakhir melihat derap pembangunan disertai arus pengalihan teknologi, kemudian dihadapkan pada berbagai pola dan gaya hidup konsumtif, maka sudah saatnya kiranya untuk memperhatikan masalah manusia dalam budaya, sebagai suatu subyek menghadapi obyek-obyek dalam lingkungannya.
Di sinilah letak sumbangan suatu orientasi filsafat yang sebagai orientasi teoritis dapat memberi suatu kerangka referensi untuk meneliti fenomena budaya dalam lingkungan kita, khususnya di mana di satu pihak pengalihan teknologi menjadi sumberdaya utama bagi pembangunan, di pihak lain manusia harus meningkatkan daya seleksi menghadapi pengalihan teknologi ini.
Dalam sistematika filsafat, maka filsafat tentang manusia mengetengahkan kodrat manusia pada subyektivitas yaitu sifatnya sebagai suatu subyek atau aku di satu pihak. Di pihak lain pada kehidupan budayanya, sehingga semakin menariklah untuk memasalahkan bersama kedua kodrat, aku dalam budaya ini.
Suatu pembedaan budaya dalam tahap ontologis, fungsional, dan mitis pula yang menampilkan bersama berbagai sikap atau dimensi aku pada umumnya. Perbedaan ini akan lebih jelas dengan memanfaatkan bagan berikut (van Peursen), di mana S adalah subyek dan O adalah lingkungan atau obyek. Suatu budaya mitis merupakan dunia perwujudan aku yang mitis-ialah aku yang masih melebur dengan kekuatan dan ancaman dalam lingkungan. Aku ontologis sudah mampu mengambil jarak dari kekuatan dalam lingkungan, menyadari diri sebagai suatu keterpisahan, dan dapat bersikap meneliti hakekat lingkungannya.
Sedangkan aku fungsional menyadari kaitan dengan lingkungan dan menyatakan diri lewat kaitan ini, melangsungkan fungsi dalam relasi.