I
“Kamu tak seperti lazimnya anak Cina yang lain”, begitulah komentar Oom Danny, adik tante kost-ku, ketika aku tengah asyik-asyiknya terlibat dalam obrolan dengannya kira-kira dua bulan yang lalu. Minat yang sama, yaitu jurnalistik dan soal tulis-menulis, menggiring pembicaraan ke arah soal-soal ekonomi, sosial, politik sampai ke soal mahasiswa dan idealisme mereka. Dan ini tak lazim dimiliki oleh seorang mahasiswa Indonesia keturunan Tionghoa! Aku sendiri agak terhenyak mendengar kesimpulan adik tante kost-ku itu. Baru kemudian kuakui, bahwa aku memang tak sepenuhnya berdarah Tionghoa. Ayahku Tionghoa yang mungkin peranakan, ibuku peranakan Jawa-Belanda.
Aku sendiri selama ini sudah hampir tak pernah peduli dengan soal identitasku. Bahkan dengan studiku di biologi yang kemungkinan besar akan mubazir kelak, karena aku lebih rajin melahap setiap kolom koran atau majalah ketimbang harus melongok sel-sel di mikroskop. Tapi perjumpaan itu kembali mengusik tanyaku: Benarkah aku telah tampil sebagai orang Indonesia, dan bukannya Tionghoa yang WNI? Apakah telah jujur aku ini, dan bukannya cari selamat?
Rasanya aku masih boleh dibilang bak katak dalam tempurung untuk bisa menjawab kedua pertanyaan itu. Yang aku tahu cuma dari lingkungan kampusku, akumulasi mahasiswa-mahasiswa keturunan Tionghoa di tiga fakultas (teknik elektro, bahasa Inggeris dan ekonomi) dan motivasi mereka yang kuat untuk cepat-cepat merampungkan studi agar bisa segera bekerja di perusahaan-perusahaan swasta atau asing. Yang aktif di bidang kemahasiswaan pun bisa dihitung dengan jari. Atau aku menjadi sedikit lebih tahu dari buku-buku dan tulisan-tulisan yang pernah kubaca tentang hal ikhwal orang Tionghoa yang ada di Indonesia, yang selalu dihubungkan dengan gambaran sebagai toke atau pemilik modal, yang ekslusif karena pernah digolongkan oleh Belanda kolonial sebagai kelas menengah bersama golongan vreemde osterlingen yang lain dan menguasai sistem perpajakan dan perdagangan hasil bumi sejak abad yang lampau. Atau yang belakangan ini sering dihubungkan dengan usaha model “Ali-Baba”, cukongisme, penyelundupan yang lihai dan skandal suap yang tak kepalang tanggung.
Sungguh, kedatangan adik tante kost-ku itu menyadarkan aku kembali bahwa aku tak bisa memungkiri wujud lahiriah dan identitas yang kuwarisi dari ayahku yang Tionghoa. Tujuh orang teman kost-ku yang kesemuanya keturunan Tionghoa, tentunya membuat Oom Danny menggolongkan aku dalam stereotype yang sudah dimilikinya sebagai warga kota Jakarta. Tapi untunglah tidak demikian, walaupun sebenarnya komentar semacam yang dilontarkan oleh Oom Danny itu telah kudengar juga tiga tahun yang lalu. Juga dari mulut seorang pengarang dari Jakarta yang mendampingi aku mengurusi penerbitan buletin selama suatu sidang gereja-gereja berlangsung di kampusku.
Mungkin aku memang lain. Hal ini mungkin disebabkan karena perkawinan campuran antara kedua orangtuaku. Tetapi kukira juga karena perjalanan sejarah kehidupanku.
II
Aku dilahirkan di klinik bersalin milik Suster Rien di Mojokerto, Jawa Timur, pada tanggal 1 Desember 1953. Ketiga orang kakakku juga dilahirkan di sana. Sebenarnya ibuku, atau mamiku (begitulah kemudian aku memanggil dia), sudah kelewat tua untuk melahirkan aku. Saat itu hampir genaplah usianya menjadi empatpuluh tiga tahun. Ayahku, atau papiku, setahun lebih tua daripadanya. Sementara kakakku yang tertua terpaut empatbelas tahun dari aku. Hal inilah yang kelak ikut mnentukan arah hidupku. Usia produktif papiku yang sudah menjelang batas akhirnya itu membuat aku bagaikan sepucuk anak panah yang melesat tak jauh dari busurnya.