Antisipasi Terhadap PJPT-II
Upaya menyelesaikan soal pangan telah dan akan tetap dilakukan karena masalahnya selalu mengikuti dinamika pembangunan. Keberhasilan pembangunan ekonomi dan sosial tidak segera menuntaskan masalah pangan, bahkan persoalannya akan makin rumit seiring dengan kompleksitas persoalan pembangunan itu sendiri. Di masa mendatang masalah pangan akan mengikuti tantangan yang lebih berat, terutama untuk mewujudkan peningkatan kualitas pangan yang lebih baik dan beragam, disertai keamanan bagi konsumen yang lebih terjamin.
Pendahuluan
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya tidak dapat ditunda-tunda, karena itu penyelesaian pangan di berbagai negara menempati perhatian khusus dalam pembangunan bangsa. Meskipun upaya menyelesaikan masalah pangan telah dilakukan sejak lama, khususnya sejak Orde Baru, namun soal pangan tetap aktual karena pangan selalu mengikuti dinamika pembangunan. Dengan keberhasilan pembangunan ekonomi dan sosial yang telah kita capai selama ini masalah pangan tidaklah semakin ringan, namun sama rumitnya dengan kompleksitas masalah pembangunan itu sendiri.
Produksi pangan, terutama pangan pokok seperti beras, telah berhasil mencapai swasembada dan mampu dipertahankan secara fleksibel. Keberhasilan dalam mempertahankan swasembada beras telah menjadi landasan yang kuat untuk melangkah ke arah peningkatan produksi pangan dalam arti yang luas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang. Peningkatan tersebut juga sangat terkait dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat akan kualitas pangan yang lebih baik. Perubahan-perubahan ke arah tersebut perlu mendapatkan sorotan yang lebih tajam agar kita mampu merumuskan langkah yang tepat.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan penduduk yang mendekati 190 juta pada akhir Pelita V, mempunyai masalah tersendiri dalam hal pemenuhan kebutuhan pangannya. Sebaran wilayah Indonesia yang menghadapi kendala alam, memerlukan perhatian tersendiri pula. Di samping itu dengan keragaman tingkat kemajuan sosial ekonomi masyarakat menambah rumitnya persoalan untuk merumuskan langkah yang tepat dalam mengupayakan ketersediaan pangan secara merata. Karena itu aspek distribusi juga menempati bagian yang penting dalam perumusan kebijaksanaan pangan.
Upaya memahami permasalahan tersebut akan lebih memadai apabila dilihat dalam konteks sistem pangan yang menyeluruh dengan berbagai faktor yang berpengaruh dan langkah-langkah yang diperlukan. Gambaran mengenai rumusan sistem pangan Indonesia dapat dilihat pada Gambar 1. Sebagai suatu perekonomian yang terbuka kita tidak dapat mengabaikan aspek internasional dalam memahami masalah pangan tersebut.
Tulisan ini bermaksud menyajikan permasalahan pangan ditinjau dari segi sistem pangan nasional, yang pada intinya terdiri dari fungsi-fungsi produksi, konsumsi dan distribusi yang saling terkait erat. Dalam pembahasan ini masalah produksi dan konsumsi akan disajikan secara bersama-sama, kemudian aspek distribusi dan perdagangan internasional. Pada bagian lain juga akan dibahas orientasi ke depan ekonomi pangan.
Produksi dan Konsumsi Pangan
Salah satu tugas utama sektor pertanian dalam pembangunan suatu perekonomian adalah untuk menghasilkan bahan pangan bagi penduduk, di samping perannya dalam menyediakan bahan baku bagi industri dan menghasilkan devisa bagi negara. Sejak awal Orde Baru peranan pertanian untuk menyediakan pangan tersebut telah diupayakan melalui berbagai kebijaksanaan dan program. Dalam peningkatan produksi tersebut juga terkandung maksud untuk sekaligus memperbaiki taraf hidup petani di daerah pedesaan.
Secara keseluruhan peran sektor pertanian dalam perekonomian nasional memang terus menurun secara konsisten, jika peranan tanaman padi dalam Produk Domestik Bruto pada awal Repelita I mendekati 19% maka pada saat ini tinggal sekitar 6-7% saja, sementara peranan seluruh sektor pertanian juga telah menurun di bawah 19%. Dengan demikian pangsa sektor pertanian dalam PDB pada saat ini sama dengan pangsa tanaman padi pada awal PJPT-I, namun demikian sektor pertanian masih harus menampung lebih dari separoh tenaga kerja. Apabila dirinci lebih jauh, maka sebagian terbesar tenaga kerja tersebut berada di subsektor tanaman pangan. Dengan demikian pangan, bukan saja penting bagi pemenuhan konsumsi tetapi juga bagi sumber penghidupan masyarakat.
Sebagaimana telah disinggung di muka, bahwa produksi pangan pokok, terutama beras selama ini telah dapat dijaga peningkatannya mengikuti kebutuhan dalam negeri. Di samping itu berbagai bahan pangan lainnya seperti jagung, kedelai, ubi kayu dan bahan pangan lainnya juga telah berhasil ditingkatkan. Selama PJPT-I produksi padi meningkat dengan rata-rata 4,0%/tahun, sehingga mampu mencapai tingkat swasembada dan kemudian dipertahankannya sampai saat ini. Keberhasilan dalam peningkatan produksi padi tersebut tidak terlepas dari keberhasilan dalam membangun sistem agribisnis tanaman padi yang didukung oleh penelitian dan pembangunan infrastruktur serta kelembagaan yang memadai.
Sedangkan untuk jagung, kedelai dan ubi kayu masing-masing meningkat dengan 7,0%, 7,3% dan 1,6% pertahun. Pertumbuhan produksi berbagai komoditas bahan pangan tersebut, termasuk beras, dicapai dengan melalui peningkatan luas panen, baik melalui perluasan areal maupun intensifitas tanam, dan peningkatan produktivitas.1 Peningkatan produksi berbagai bahan pangan juga terjadi di semua propinsi, sehingga secara spasial juga terjadi pemerataan penyediaan pangan melalui produksi.
1 Soetrisno Hadiwigeno, Kebijakan dan Strategi Bidang Produksi Dalam Mencapai Swasembada Pangan, Makalah pada Seminar Kebijakan dan Strategi Dalam Mencapai Swasembada Pangan, PSKPG-LP IPB Bogor 5 Juni 1993.