Prisma

Angin Pantai di Lembah Pegunungan: Adakah yang Bakal Terbang?1

Lipatan Pegunungan Takolekaju di Sulawesi Tengah, terbentuk sebagai hasil tabrakan dua pulau yang kemudian menyatu menjadi Sulawesi sekarang. Pergumulan antara lempeng benua Eurasia, lempeng benua Indo-Australia dan lempeng Samudera Pasifik itu terjadi antara masa Miosen dan Pliocene, antara 25 sampai 3 juta tahun yang silam.2 Nah, di pegunungan yang diapit lembah Sungai Palu di Barat, lembah Sungai Poso di timur dan lembah Sungai Lariang di selatan, tercetak pulalah beberapa danau purba. Ada yang rendah dan hingga kini masih berair, seperti Danau Lindu yang terhampar di kaki Gunung Nokolalaki yang 2.355 meter tingginya. Ada pula yang sudah mengering dengan dasar tanah alluvial yang subur, di mana rawa-rawa berbatasan dengan padang rumput tempat halaman suku To Lore (= orang dataran tinggi) atau “orang Poso Gunung” yang belum ada 10 ribu jiwa jumlahnya sekarang. Tiga lembah yang utama adalah Napu yang berketinggian 1.000 meter, Besoa yang 1.200 meter tingginya, dan Bada yang hanya 750 meter.3 Ketiga lembah itu termasuk wilayah administrasi Kabupaten Poso. Napu dan Besoa termasuk Kecamatan Lore Utara yang beribukota di Wuasa (Napu). Sementara Lembah Bada merupakan satu kecamatan tersendiri-Lore Selatan-yang beribukota di Kampung Gintu.

Kegiatan tektonis berupa gempa bumi ringan dan sedang, sering terasa di daerah itu. Maklumlah, ada patahan (fault) Palu-Koro sepanjang 1.000 kilometer yang terentang dari Palu sampai ke Teluk Bone, hampir sejajar dengan barisan pegunungan Takolekaju. Tahun 1902, sebuah desa dihancurkan oleh gempa.4 Dan paling akhir, Juni 1977, orang-orang Besoa mengalami gempa yang merubuhkan dua lumbung padi di Kampung Doda, merontokkan lampu-lampu petromax dari gantungannya, serta menggugurkan radio dan salon petugas camat Besoa dari atas almari ruang tamunya. Beberapa bulan kemudian, kota Palu yang lebih dari 150 kilometer jauhnya dari Besoa digelitik gempa ringan berkekuatan 5,9 pada skala Richter.5

Sering bergumul dengan gempa, tak terlalu merisaukan masyarakat Lore. Sebab arsitektur tradisional To Lore sudah diperhitungkan untuk tahan gempa. Seluruh bangunan rumah, lumbung, maupun balai desa (baruga) biasanya dibuat menjadi satu kesatuan konstruksi yang utuh, tanpa sambungan paku. Konstruksi itu sudah meliputi panggung, yang tiang-tiangnya tidak langsung berpijak ke tanah, melainkan bertumpu pada batu-batu alas yang berfungsi meredam getaran gempa. Sayangnya, semenjak angin westernisasi dihembuskan oleh para administrator dan penginjil Belanda di Besoa, awal abad ke-20 ini, arsitektur tradisional Lore mulai terdesak oleh arsitektur kota yang tak tahan gempa. Di Besoa misalnya, tinggal satu tambi tosae (rumah kuno) yang sudah berumur 400 tahun dan sudah tiga kali pindah kampung, yang masih mematuhi aturan arsitektur asli. Sedang rumah-rumah penduduk lainnya, sudah merupakan arsitektur campuran. Meskipun demikian, lumbung padi biasanya masih dibangun sesuai dengan petunjuk arsitektur asli yang tahan gempa tadi.6 Makanya, kalau lumbung-lumbung pun pada rubuh-seperti pada gempa Juni 1977 itu-mungkin gempanya cukup hebat. Atau kemahiran arsitektur tradisional Besoa sudah merosot…


1 Tulisan ini merupakan pengantar tentang kebudayaan suku To Lore di Pegunungan Takolekaju, Sulawesi Tengah, dengan fokus Rencana Taman Nasional Lore Kalamanta yang akan dibuka dalam Pelita III. Bahannya digali dari peninjauan lapangan bersama Sdr. Barita O. Manullang bulan Mei 1978, ditambah dengan studi kepustakaan di Jakarta dan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat Sulteng di sini.

2 John A. Katili, Past and Present Geotectonic Position of Sulawesi, Indonesia, (Amsterdam: Elsevier Scientific Publishing Co., 1978), hal. 289.

3 Usulan Lore Kalamanta National Part, Rencana Manajemen 1978-1980, Laporan Lapangan UNDP/FAO, Bogor, 1977, hal. 10, 20.

4 UNDP/FAO, op.cit., hal. 10.

5 Tempo, Jakarta, 7 Januari 1978, hal. 44.

6 Tempo, Jakarta, 6 Mei 1978, hal. 20; Tempo, 30 September 1978, hal. 32.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan