Penelitian penulis di tiga kota, Surabaya, Malang dan Jakarta di tahun 1978 menghasilkan penemuan yang menarik tentang pergeseran yang terjadi dalam industri angkutan kota, terutama angkutan berskala kecil. Industri yang semula berada di tangan non-pribumi ini sejak tahun 1970-an bergeser ke tangan para pemilik pribumi, yang umumnya berasal dari kelas menengah kota. Hal ini menunjukkan meluasnya jumlah dan bertambahnya kemakmuran golongan menengah dalam masa Orde Baru, di samping membuktikan bahwa kelas usahawan pribumi sebenarnya bisa juga maju tanpa harus bersandar pada subsidi atau bantuan pemerintah. Dan karena modal kelas menengah ini sulit dijadikan dasar buat pertumbuhan lapisan usahawan yang kuat, maka diperlukan suatu lembaga keuangan yang bisa memobilisir tabungan mereka dan menyalurkannya kepada investasi produktif.