Tulisan ini membahas pertarungan dua artikulasi populis selama pemilihan presiden (Pilpres) 2024: artikulasi populis-otoritarian Prabowo-Gibran dan artikulasi populis-demokratis Anies- Muhaimin dan Ganjar-Mahfud. Menggunakan analisis wacana, diperlihatkan artikulasi populis Prabowo bergerak dari konstruksi negara kuat, sedangkan artikulasi populis Anies dan Mahfud bertolak dari konstruksi politik rakyat berdaulat. Kedua artikulasi populis itu diluncurkan dari dua diskursus politik yang terbentuk selama dan pasca-pandemi Covid-19 sejak tahun 2020 hingga Pilpres 2024. Politik populis Prabowo terkondisikan dalam hegemoni diskursus “Keberlanjutan” Joko Widodo yang dikendalikan oligarki politik nasional, sedangkan politik populis konter-hegemoni Anies dan Mahfud terbentuk dalam diskursus “Perubahan” yang dikawal gerakan masyarakat sipil. Tulisan ini diharapkan membawa implikasi teoretis dan praktis bagi para pegiat dan pengkaji demokrasi untuk terus memperkuat gerakan konter-hegemoni yang telah terbentuk selama Pilpres 2024
Kata Kunci: antagonisme politik, konter-hegemoni, konsolidasi demokrasi, populisme