Prisma

Aplikasi Filsafat Atomisme Logis dalam Konteks Dunia Sosial

Bertrand Russell, Dampak Ilmu Pengetahuan Atas Masyarakat, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 1992, xii + 134 halaman.

Russel merupakan salah seorang filsuf Inggris abad 20 yang terkemuka. Ia tidak hanya membahas tentang matematika dan filsafat (ilmu), tapi juga melihat keterkaitan antara kedua bidang tersebut dengan realitas sosialnya. Buku yang sekarang menjadi fokus kajian, jelas sekali mencerminkan keterkaitan antara pengetahuan dan realitas sosial.

Dalam Kata Pengantar, Bertens menyatakan bahwa Russell menonjol dalam tiga hal. Pertama, penguasaannya terhadap sejarah pengetahuan dan sejarah sosial. Kedua, wataknya yang anti Marxis dan Komunis. Ketiga, eksistensi Russell sebagai pemikir bebas yang terlepas dari dominasi ideologis dan agamis.1 Dapat pula ditambahkan di sini ciri lain Russell yang menonjol yakni prediksinya tentang perkembangan ilmu pengetahuan yang tajam, dan obsesinya terhadap perwujudan sistem dunia yang tunggal di masa mendatang.

Ada empat latar sosial yang sangat mempengaruhi konstruk pemikiran Russell. Pertama, renaisans pemikiran filsafat yang dipelopori Francis Bacon (1561-1626). Karakter filsafat Bacon, antara lain bersifat praktis. Artinya, filsafat harus mampu membimbing manusia menguasai alam melalui metoda ilmiah. Metoda ilmiah ini bersifat induksi, kerja ilmiah beranjak dari fakta-fakta menuju hukum-hukum dan berpuncak pada kesatuan. Akibatnya, filsafat menjadi terpisah dari teologi apalagi akal sendiri mampu menerangkan eksistensi Tuhan.2

Kedua, konstruk idealisme yang berakar pada neo-hegelianisme sangat mendominasi pemikiran filsafati Inggris pada masa Russell. Karakter filsafat seperti ini cenderung pada hal-hal empiris dan menjauhi metafisika. Sifat lainnya, adalah pemikiran yang terdorong oleh sikap antiterhadap materialisme dan positivisme, khususnya yang dikembangkan John Stuart Mill.3

Ketiga, latar sosial yang juga mempengaruhi konstruk pemikiran Russel adalah lingkungan akademis Universitas Cambridge. Di sini ia berkenalan dengan matematika dan filsafat (dari A. Whitehead, ahli filsafat proses, serta pasangannya dalam menulis buku Principia Mathematica), sekaligus tempat ia mengajar. Aliran filsafat Cambridge sangat menekankan pentingnya hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan.4

Keempat, para filsuf yang merupakan rekan dialognya. Di antaranya adalah George Moore, filsuf yang beranjak dari idealisme ke upaya pengembangan aliran filsafat analitis yang menekankan pada makna, bukan pada kebenaran sebuah ujaran. Ludwig Wittgenstein, filsuf bahasa yang menekankan pada makna kalimat yang tergantung pada cara pemakaiannya, yang kemudian dikenal dengan teori permainan bahasa (language games theory).5 Tentunya Whitehead juga sangat memengaruhi konstruk pemikiran filsafati Russel.6

Jika demikian, bagaimanakah konstruk filsafati Russell? Pada prinsipnya, pertama, filsafat harus terjalin erat dengan ilmu pengetahuan. Filsafat mendorong untuk berpikir dalam konstruk-konstruk teori yang besar. Lantas, konstruk itu dirinci dengan metoda ilmu pengetahuan, tentunya yang empiris.

Kedua, tugas filsafat, sebagaimana ilmu alam, harus merincikan relasi-relasi antara benda-benda dalam bentuk proposisi-proposisi. Dengan kata lain, proposisi merupakan pemahaman kita tentang relasi-relasi antar fakta. Akibatnya, kebenaran tidak dihadapkan pada fakta, melainkan pada proposisi.7

Fakta adalah sesuatu yang ada di dunia, yang memiliki karakter, selalu ada meskipun tak terpikirkan; dan selalu terbebas dari hasrat kita. Jadi, ilmu pengetahuan adalah kepercayaan dengan derajat kebenaran tertentu sebagaimana tercermin pada proposisi-proposisi yang menggambarkan relasi antar fakta yang dibangun dengan analisa logis.8 Analisa di sini dalam pengertian “mencari fakta-fakta atomis dalam realitas dan proposisi-proposisi atomis pada taraf bahasa.”9

Konstruk pemikiran Russell yang paling penting, menurut Bertens, adalah proposisi atomis (atomic proposition) yang bersandar pada indera (untuk mencerap fakta) dan bahasa (untuk mengungkapkannya dalam bentuk proposisi-proposisi). Dari proposisi-proposisi atomis dibangun proposisi molekuler (molecular propositions are ‘truth-functions’ of atomic propositions). Jadi, konstruk pemikiran filsafati Russell merupakan varian dari neo-hegelianisme yang disebut filsafat atomisme logis. Itulah, pada tataran ilmiah, Russell memiliki obsesi untuk membangun relasi yang kuat antara filsafat (ide-ide besar), teori (ilmu pengetahuan empiris-logis), dan praksis (ketekunan dan konteks sosial); dan di lain pihak pada tataran dunia praktis, ia berhasrat membangun suatu sistem dunia.


1 Sikap keberagaman ini telah ditulis Russel dalam bukunya Why I am not a Christian. Secara implisit terungkap pula dalam bukunya Principles of Social Reconstruction, khusus bab “Religion and the Churches,” (London: Unwin, 1916).

2 Lihat Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat (Yogyakarta: Kanisius, 1992), Jilid 2, Cetakan ke-8, hal. 15-17.

3 Lihat K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX (Jakarta: Gramedia, 1990), Cetakan 4, Jilid II, hal. 18-20.

4 Ibid, hal. 52.

5 Ibid.

6 Tentang pemikiran Whitehead lihat J. Sudarminta, Filsafat Proses (Yogyakarta: Kanisius, 1991).

7 Perihal konstruk pemikiran Russel lihat, Bertens, Op.cit, hal. 25-32.

8 Lihat Bertrand Russell, “Fakta, Kepercayaan, Kebenaran, dan Pengetahuan,” dalam Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989), Cetakan 8, hal. 70-86.

9 Loc.cit, hal. 31

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan