Prisma

Arkeologi, Daya Ingat, dan Para Arkeolog

Prinsip dasar suatu pangkal data adalah adanya sekeping informasi yang disimpan dan bisa dipanggil kembali. Itulah dua sisi paling dasar dari pangkal data, yaitu saveability and retrievability. Dengan itu daya ingat manusia akan diperpanjang sedemikian rupa, sehingga sedikit saja kurang dari keabadian.

Penggalian para arkeolog tidak lain dari mengangkat kembali, retrieving, apa yang disimpan, saved, oleh alam. Dalam hubungan itu, pengolahan tidak lain daripada intervensi manusia yang dinamakan labor, kerja—kerja manusia sebagai tukang, faber, mengubah alam.

Dengan kerjanya seperti menggali manusia mengubah alam dan hasil dari perubahan itulah yang disebut sebagai kebudayaan. Dengan demikian, lingkaran kecil yang menjadi buah pembahasan kali ini menutup penuh: alam, kerja, dan artefak dari batu, kayu, gedung, sebagai kristal daya ingat manusia.

Penyimpanan memoria sangat tergantung dari teknologi menjaga dan memperkuat daya ingat itu, yang pada gilirannya sangat tergantung konteks perkembangan masyarakat manusia itu sendiri. Dalam masyarakat yang berkelimpahan batu, maka batu yang dimaksud menjadi alat memoria itu yang tidak lain dari perpanjangan daya ingat. Masyarakat manusia tempat kayu menjadi kekuatannya, maka kayulah yang menjadi teknologi memori.

Umberto Eco, satrawan dan filsuf Italia (1932- 2016), membuat analisis menarik perhatian dalam hubungan dengan memoria manusia; bagaimana evolusi penyimpanan ingatan manusia berlangsung sepanjang masa.

Ketika daya ingat manusia semata-mata bergantung pada kemampuan otaknya, maka tahap itu disebut sebagai organic memory—yang sungguh-sungguh tergantung pada pekerjaan otak. Namun, otak sangat bergantung pada umur, semakin tua semakin berkurang daya ingat itu sampai hilang seluruhnya dalam suatu keadaan yang disebut amnesia, yaitu kehilangan ingatan secara total. Bahkan, dirinya sendiri pun hilang dari ingatannya.

Pada masa purba, ingatan itu dipahat di bebatuan atau kayu, kemudian disimpan yang disebut sebagai mineral memory. Pada masa lebih modern, ingatan itu ditatah di dedaunan, batang pohon, kayu, dan lain-lain yang disebut sebagai vegetal memory. Dengan perkembangan lebih canggih menjadi kertas, buku, surat kabar, dan sebagainya yang menjadi puncak peradaban karena revolusi Gutenberg. Namun, perangkat komputer memungkinkan kembalinya mineral memory yang dipahat di dalam imaji digital yang terbungkus dalam mineral murni.

Dengan demikian, kita tiba pada kesalinghubungan sangat ketat antara artefak, arkeologi, memoria, dan historia. Namun demikian, sangat tidak menguntungkan bahwa arkeologi dikaitkan semata-mata dengan barang tua, artefak, atau candi-candi di atas dan di bawah tanah. Bukan ketuaan itu yang menjadi soal, akan tetapi makna yang melekat di dalamnya terutama yang lebih menjadi soal. Tuanya kayu jati adalah lambang kekuatan, daya tahan, dan karena itu prestise. Karenanya, semakin tua kayu jati, ia semakin berharga. Yang membuatnya seperti itu tidak lain dari yang disebut sebagai relevansi kayu jati yang kekuatannya tidak tertandingi dan karena itu tidak terbanding pula reputasi sosialnya.

Namun, arkeologi dalam pandangan masyarakat kita di sini berada di sisi seberang kayu jati sedemikian rupa, sehingga sebagai ilmu ia menjadi ilmu tua dan sekadar juru warta tentang barang tua, nuntia vetustatis, kata Cicero, yang semakin tua semakin tidak berharga. Dari segi relevansi dianggap tidak relevan.

Akan tetapi, selalu muncul paradoks sebagaimana ditunjukkan kayu jati di atas. Paradoks itu terutama terletak dalam retrievability, yaitu kemampuan para arkeolog—dengan gabungan dari semua teknologi ketiga daya ingat manusia seperti dikemukakan Umberto Eco di atas—mengangkat kembali apa yang karena kekalahan/kehancuran disebabkan ulah manusia disimpan rapi oleh alam. Karena itu, pekerjaan para arkeolog tidak tergantikan.

Candi Borobudur berdiri kukuh sebagai bukti retrievability itu. Borobudur dengan seribu patung adalah kekayaan yang tak ternilai karena menjadi saksi waktu, testis temporum. Kemampuannya menjadi saksi sang kala hanya mungkin diungkapkan bila bangsa ini diperkaya oleh para arkeolog yang mengangkat artefak menjadi saksi sang kala bagi harkat umat manusia•

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan